π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ


 ─────────  ✾  ─────────

• Anandini Naeswari Pratibha  



• Kasetra Satyawangsena  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎKalluna CafeYogyakarta  —  21.39 WIB

Seorang pria terlihat tengah bersemayam sembari terdekap oleh resah. Sedari tiba pun tak terlihat ia memasang raut sumringah. Netranya hanya berpusat pada secangkir kopi pekat yang uapnya telah habis dilahap oleh rasa gelisah.

Mustaka itu dipenuhi oleh sejuta tanya. Tak karuan ia dibuat oleh satu pesan dari sang juwita yang berkata,  ‘ayo bicara di tempat biasa’. Kalimat itu selalu berdengung di dalam telinga. Ia hanya bisa menghela napas dan mengusap gusar durja.

“Sudah dari tadi?” tanya seorang dara yang menggema dalam keheningan suasana, membuat Setra terkesiap dari lamunannya. Ia memandang sendu roman ayu dari sosok pujaannya. Ingin ia rengkuh raga mungil yang tak menampakkan rupa dalam waktu lama. Namun rindu yang tengah singgah dalam atma, ditepis begitu saja oleh harga dirinya. 

Selepas Setra mempersilakan Andin untuk duduk di hadapannya, tak ada lagi aksara yang muncul dari bibir mereka. Bagai reronce aksara yang melibatkan koma antar klausa, jeda tersua di antara sepasang insan yang memadu romansa.  Senyap menyapa cukup lama, hingga perempuan yang memiliki surai dengan warna cokelat pekat itu lebih dahulu membuka suara.

“Bagaimana proyek terakhirmu? Aku dengar dari Janu, kamu sempat bekerja sama dengan perusahaan yang kamu impikan itu,” ujar Andin seraya memasung garis tipis pada anana. Netranya menatap secara saksama pria yang lama tak dijumpa, ia seolah dibawa kembali oleh memori lama yang menyajikan kenangan manis saat keduanya masih baik-baik saja.

“Lewat dua minggu kamu enggak menghubungiku dan sekarang dengan santainya kamu bertanya perihal proyekku?” Decitan Setra lolos begitu saja. Menyibak rikma, ia mengurai cemooh tawa kepada sang pewarita. Kendati membenam kecewa, tutur sehalus sutera pun runcing bak senjata menyeruak masuk dalam telinga. “Kamu enggak tahu kalau eksplanasimu selalu aku tunggu? Agaknya bagimu, hubungan kita sekadar angin lalu.”

Memijat pelipis menggunakan deriji, desir respirasi Setra terasa berat bergaung pada jumantara. Pitam bertakat mendera, eksplikasi atas dedikasi untuk tidak menjalin komunikasi sementara, ia selorohkan pada subyek yang terperangkap mata. Menekan ego guna mengusir angkara, ia lalu berkata, “Aku paham kamu membutuhkan waktu untuk memulihkan keadaan hati yang berantakan. Tapi aku rasa enggak baik juga bila mendiamkan pasangan tanpa memberikan aba-aba. Juga, bahkan kamu enggak memberi tahu aku perihal publikasi karya.” 

Menancapkan hidung pada udara, dengusan Andin menjadi balasan atas penjabaran Setra. Melipat tangan di depan dada sembari memiringkan kepala tuk memastikan bahwa indra tak salah memeka, terperangah ia dengan pembenaran prianya. Dayita tersebut pun lugas menandas elaborasi si wirya. “Buat apa aku beri tahu? Beberapa waktu lalu, kamu bahkan ada di pihak Biyungku.”

“Aku melakukannya didasari rasa marah dan penasaran terhadap tingkahmu yang mencurigakan,” sangkal Setra menyirat sesal pada setiap pemilihan kata yang pernah melesat dari bibir tipisnya. Enggan meninggikan pita wicara pun memperkeruh suasana, hendak ia leraikan perkara nan mengusik jiwa agar gulana yang semula mencerca segera lenyap tak bersisa. Bak ksatria, ia lantunkan pangapura. “Aku akui, aku melakukan kesalahan. Mohon aku dimaafkan.”

“Apapun itu alasannya, enggak harus melewati batas keleluasaan pribadi juga,” hardik Andin sambil memicingkan iris sekelam rimba. Mengurut dada atas tingkah laku Setra yang melahirkan kecewa dalam sukma.

“Begitu juga denganmu. Semarah apapun kamu, jangan pernah sampai mengabaikan seseorang lewat dua minggu,” tandas Setra sebelum Andin sempat menyela. Alis mengepak sejala merepresentasikan bahwa laki-laki yang sarat akan wibawa enggan dijadikan terdakwa.

“Andin, permasalahan ini ada di kita. Aku bertindak secara tergesa sampai melewati batas yang ada. Kamu bertindak acuh tanpa memberikan kabar atau sekadar menyapa.” Asta Setra terulur meraih jemari lentik Andin untuk dibawa ke dalam genggamannya. Secarik senyum melengkung sempurna tatkala obsidian mereka saling bersenggama. “Ndin, hubungan kita bukan sekelas roman picisan apalagi kisah remaja yang dibumbui drama. Aku dan kamu sudah menginjak usia dewasa. Singgahku ‘tuk mengajakmu bicara agar relasi ini dapat utuh seperti sedia kala.”

Terlepaslah rinai yang Andin kurung di dalam netra sedari ia bersua dengan Setra. Tiada lagi sawala yang membuat pening kepala setelah Setra merengkuh tubuh kekasihnya. Telapak tangan kekarnya mengusap lembut punggung yang tengah bergetar dengan hebatnya. Tak lama, jejaka muda itu semakin mengeratkan dekapan lantaran rungunya mendengar permintaan maaf yang terlontar berkali-kali secara saksama dari sang juwita.


kaserat dening,

— Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀