ππππππ: ππππππ
───────── ✾ ─────────
Jingga merangkak ke permukaan menghaturkan salam perpisahan kepada pratanggakara yang memadu terik seharian. Bagai rona nirwana, elok mega menorehkan keindahan bak lukisan. Hingar-bingar deru kendaraan berkumandang di setiap sudut perkotaan, mendeklarasikan bahwa jantung peradaban masih berjalan. Lalu-lalang orang terbirit menanggalkan pekerjaan, mencari celah untuk pulang lantaran raga harus segera diistirahatkan. Pun desing di pinggiran jalan, para anak manusia yang menandu beban sejenak menepi dan duduk lesehan sembari melahap kudapan. Menepis kemelut pikiran dengan membagi gelakan bersama kawan.
Pada sebuah pesanggrahan, sepasang insan mencumbu keheningan. Mendudukan diri pada lincak berbahan rotan, cangkir bermotif dedaunan tergenggam pada masing-masing tangan. Kehangatan menjamah tenggorokan ketika teh yang disesap membumihanguskan runyam tak berkesudahan. Sesaat khidmat menanti binar rembulan, hawa yang sebentar lagi duduk dibangku pelaminan pun lebih dulu membuka percakapan.
“Kernyit pada dahimu yang sedari tadi bertalu mengganggu pemandangan. Apa yang kamu risaukan?”
Menempatkan cawan pada di atas nampan, Andin melontarkan cuitan atas galuran garis nan mengusik pemandangan. Menjangkau kantong berisi camilan, seutas pertanyaan dia lesatkan. “Bukankah aku sudah bilang untuk jangan sungkan berbagi keluhan? Gulana yang kamu tahan, perlu diperdengarkan,” meruahkan makanan pada kawan yang diajak memadu obrolan, sang puan menggores senyum ketenangan. Ia lalu meneruskan, “ceritakan, telinga ini aku pinjamkan. Pun kedua bahu yang boleh kamu jadikan sebagai sandaran paling nyaman.”
Menengadahkan tangan guna menyambut santapan kesukaan, Mahawira tergelak pelan. Usai menelan keripik berwarna kemerahan, sang tuan memekik kepedasan. Lekas ia tandaskan gelas lain berisi minuman sebelum mengandarkan kritikan. “Selera makan kita bertentangan. Lain kali jangan ajak aku jajan, panganan yang kamu gemari enggak layak masuk pencernaan.”
“Kamu enggak tahu ya kalau nyamikan ini sedang jadi incaran segala kalangan?” Andin melontarkan bahakan. Selagi memamah tedhan, diulungkan air mineral dalam kemasan pada Mahawira yang tengah kelimpungan sebab pengecapnya kebakaran. Ia lantas memberi peringatan. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawabanmu aku nantikan.”
Menyeka bibir menggunakan sebelah lengan, Mahawira melanting tanggapan dengan gelengan. Secara tersirat menegaskan; enggan rembugan apalagi jika berujung perdebatan. “Sudah menjemput malam, tetangga bisa bosan mendengar adu pendapat yang kerap kita lakukan.”
“Persetan,” decih Andin sambil melanting decakan. Mendadak kesal acap kali ingatan berputar saat ditegur habis-habisan oleh jiran karena pagi buta kakak beradik tersebut dianggap sebagai biang keributan. Memutar badan agar berhadapan, antusias sang kuli mangsi tergores pada roman. “Aku bisa menyumbang saran.”
“Esok hari, surat penahanan dari kejaksaan akan dikirimkan,” ujar Mahawira, terdapat riak pada pualam sesilam hutan. Digergogoti ragam keraguan tatkala mengadu pandangan, sang adhyaksa menanak kesungguhan dalam lisan. “Pukul delapan, Biyung akan dijemput untuk melangsungkan proses penyidikan dan reka adegan.”
Kepalang susah mengunyah, keterkejutan Andin berwujud anggukan. Walakin sukar menerima kenyataan, sang buruh tulis terpaksa berdamai dengan keadaan. Cuplikan monolog terakhir Biyung laksana gaman yang meluruhkan pertahanan, rekam jejak kelam yang barang secuil pun tidak pernah terlintas dalam angan. Namun, kehidupan lagi-lagi mewalakkan kejutan dengan dalih menguatkan.
“Sebagai penuntut umum, kamu sudah buat keputusan?” tanya Andin menyilangkan kaki dengan raut penasaran. Bersedekap tanpa memalingkan pengelihatan, lugas ia menuturkan, “kamu yang memangku jabatan, kenapa malah kebingungan?”
“Aku meminta pertimbangan.” Kilat sahutan Mahawira memupus kesunyian. Selepas memarginalkan letak kacamata, dengusan nan sarat akan kebimbangan meretas pendengaran. “Mbak, aku enggak mau menyesal sendirian.”
“Ngawur tenan,” seru Andin menanting cubitan pada lengan sang teruna yang cekikikan. Menyibak rikma bercorak kelam, kalimat meyakinkan dilontarkan dengan kekehan. “Susah kok ngajak barengan.”
Semilirnya angin meraba hangatnya cengkerama. Keduanya semakin mengeratkan tawa, agar nantinya tak terdekap oleh dinginnya keheningan suasana. “Walaupun Biyung mencampakkan aku sedari belia, tapi aku enggak berkenan menjadi sosok yang durhaka,” ujar Mahawira tanpa aba, membuat dara di hadapanya kembali menerjapkan mata. Rungunya menyimak penuturan dari sang bungsu secara saksama. “Tapi aku juga enggak mau diberi label sebagai jaksa yang menuntut keadilan terhadap orang asing saja. Aku enggak mau ingkar terhadap janji yang telah aku ujarkan kepada Romo kala masih ada di dunia.”
Asta Andin terulur meraih secangkir teh yang berada di hadapannya. Ia sesap secara perlahan dan kemudian mengajukan sebuah tanya, “Kamu tahu akronim jarkoni?”
“Iso ngujari nanging ora iso nglakoni.” Si bungsu berujar dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh rungu. Ia menunduk lesu, lantaran rasa bimbang semakin membelenggu.
“Pertimbangkan dengan baik. Jangan sampai pilihan yang diambil membuat kamu tercekik oleh pelik.” Sebagai seorang sulung, sebisa mungkin ia tak akan pernah membiarkan sang adik terlalu lama memupuk cenung hingga menjadi gunung. Jadi, ia berusaha membantu menentukan pilihan agar kelak laki-laki di depannya tak mengalami situasi yang buntung. “Sepenting apapun peran orang tersebut dalam hidup, jangan menjadikan itu sebagai alasan untuk memaklumi perbuatan yang membuat supremasi hukum meredup.”
Awalnya perjaka muda itu hanya mengangguk saja selepas mendengar penuturan sang kakak. Tapi tak lama kemudian Andin kembali memberikan sebuah wejangan yang berhasil membuat hatinya tersentak. “Lebih baik mendapatkan sebutan anak durhaka hingga raga bersemayam dalam makam, daripada membiarkan sebuah paham didekam oleh bungkam.” Tak bisa mengelak, Mahawira sudah kalah telak.


Comments
Post a Comment