𝐏𝐔𝐑𝐖𝐀

─────────  ✾  ─────────

• Danurwendra Kawidagda 

 

• Adiratna Pratibha 

─────────  ✾  ─────────

Pekat nabastala Yogyakarta bersua dengan raja malam yang menampakkan binar di antara payoda. Huru-hara kota berganti senyap tak dengungkan bahana tatkala jarum jam menjangkau angka dua. Jerit memekak telinga memprovokasi jelma yang tengah lelap melabuh pada khayalan fana ‘tuk lekas membuka mata.

Layaknya ratri sebelumnya, sosok rama menyingkap gebar yang membungkus raga. Dwicagak berderap tergesa menyambangi sangkar di mana seorang yuana yang gaungkan isaknya. Wirya berusia tiga ia rengkuh segera. Kendati asta kokoh menyeka seirama guna haturkan rahayu nan merasuk sukma, raung senantiasa mengudara pada jumantara, bersua dengan arutala.

Romo di sini, Le.”

Mantra andalan Wendra dilantunkan bagai desau intonasi membawa harsa. Lengkung membala pada durja kala dekap hangatnya dibalas dengan ronta dan seruan bertakat nestapa.

 “Mas Wendra?”

Nada selembut sutra diucapkan oleh seorang dayita. Merisak atensi Wendra, Ratna hampiri satria yang melipur tangis putra ragil mereka. Tiada hasrat untuk andil meredam kerisauan, kernyitan melintas pada iras wanitanya. Tampak terusik, biyung memapang raut suram pada parasnya yang jelita.

“Maaf, aku sudah coba tenangkan, tapi tangisnya tidak kunjung memelan,” tutur Wendra memasung kurva selagi menjatuhkan tatapan pada dara pujaan. Mengusak rikma sang hawa, mengharap agar kekesalan yang tertanam dapat ia luruhkan. Ia lantas mengajukan penawaran, “Kamu Biyungnya, mau coba gendong agar tangisnya mereda?”

“Kita bercerai saja.”

Alih-alih persetujuan, justru tuntutan di luar dugaan berisi perceraian Ratna suguhkan. Jemari ringkih terkepal mendefinisikan muak yang tertahan. Kepala puan terdongak, menukar pandangan dengan sang tuan yang terdiam tak memberikan jawaban. Sorot itu, nona, tuanmu menuntut penjelasan atas lisanmu barusan.

“Anandini akan jatuh pada hak asuhku. Lalu, anak itu menjadi hak asuhmu.” Ratna yang kenakan gaun berenda loloskan ayat kedua.  Letakkan daluang dan pena di atas meja, seolah tidak menerima penolakan dari Wendra. “Kita jalani hidup masing-masing seperti saat afeksi belum beradu.”

“Kau jemu hidup denganku?” tanya Wendra, nanar bersenggama luka.

Decakan Ratna mengeliminasi sepi, sambil melipat tangan di depan dada, ia menjawab kalimat tanya, “Lantas siapa yang tak menceku jika hidup dengan pria sepertimu?"

Ascarya berkelana. Secarik riak menyeruak pada wirya yang habiskan waktu selama dasawarsa dalam memadu asmara. Hingga ikrar yang tersiar di depan pemuka agama beserta keluarga, dileburkan oleh kalimat yang memporak-porandakan bahtera rumah tangga. Menimang si bungsu yang seruannya semakin menggelora, sang nahkoda keluarga membenamkan netra pada wanita yang mendongakkan dagunya tanpa iba.

“Aku turuti kemauanmu. Kita bercerai dan jalani hidup seperti dahulu sebelum bertemu,” ujar Wendra, ketegasan tersemat pada nada bicara. Mata sejenak terkatup ketika kalut yang menyergap berangsur-angsur sirna. “Aku melepasmu.”

Ratna mengangguk menyetujui. Cercah menghiasi pipi, kebebasan sudah dia kantongi. Permintaannya tak perlu ada negosiasi lantaran Wendra tanpa basa-basi langsung sanggupi.

“Tetapi, jangan pernah melarang putri dan putraku untuk bertemu,” tukas Wendra usai tersenyum samar. Ultimatum yang dilesatkan hancurkan hingar-bingar suka ria sang ayodya sampai tandas pudar. Kendati tercelar-bilar, tanda tangan dibubuhkan dengan tinta yang jelas tergambar. “Biarkan mereka dipertalikan oleh ruang dan waktu.”

“Untuk apa? Toh putramu itu akan tumbuh menjadi pria sepertimu,” decit Ratna mengurai genyi. Selepas kemauan terpenuhi bantingan gapura menepis sunyi, malam ini jua bertekat menanggalkan bilik yang tidak pernah ingin dia huni. “Jangan kau hancurkan hidup Anandini putriku.”

Lamun, deklarasi bertabur dengki menghunus sanubari. Tak halangi Ratna yang undur diri, Wendra yang hendak beranjak pergi terhenti oleh setapak tak menimbulkan bunyi. Mengarik ananda, ia rapikan jarik bermotif kawung yang menyarungi. Garis presisi bergalur pada kedua sudut pipi, mendapati buah hati yang menyembunyikan diri selagi membungkam isak tak kunjung terhenti. Sendu berorasi, Wendra usap rikma sang putri dengan hati-hati. Barangkali, si juwita yang masih beryuswa heksa, turut wakili remuk hati ayahnya saat ini.

“Andin.” Pendar karsa menepis pilu yang sejenak mengisi. Senandung berdengung sembari menilik indurasmi. “Kemari, Nduk.”

Kulit jangat menyisir dan memupus bilur yang deras membanjiri. Wendra genggam deriji yang bergetar ngeri. “Jaga Biyung ya, Ndin?”

Sempat tercekat, firasat meluruh hangat. Andin menuai lisan nan berjerumat. “Lalu Romo bagaimana?” 

Lekat tatap setiap jengkal sampirkan damai berkelebat. “Romo dan adikmu baik-baik saja.” Pahat si duplikat menyingsing bungah Wendra sangkat mencuat. 

Sekilas menggulir pandangan, Andin menelisik sungkawa yang dipendam oleh sinar rembulan. “Kenapa Romo dan Biyung ndak menua bersama saja?”

Pias teduh Wendra merangkak ke permukaan. Kensunyian ia padamkan. “Sebab rasa yang gigih dipelihara, mau tak mau harus dihilangkan untuk kebahagiaan kita. Jadi sudah tidak ada jaminan bisa mencabut uban di kepala bersama-sama.”

Bila memang matlamat bahagia bersama kenapa harus bercempera?

Usai mempertemukan jelaga kelam pada sepasang indera pengelihatan, Wendra menanggalkan menanggalkan kecupan. “Nduk, cah ayu, Romo mengasihimu.” Harap pada sang pambarep disematkan. Anggukan pelan mempersilakan kepergian.

“Mbak Andin!”

Seruan tidak mendapat balasan. Dwicagak rapuh menyisihkan ketukan lantaran empunya khusyuk memendam raung memilukan. Pekikan seperkandungan, Andin abaikan.

Rengkuh mengerat. Bidak yang meronta dihadang kuat. Riuh terpanjat. Sang ramanda lontarkan hajat bak sebuah maklumat. “Mahawira, Mbakmu yang masih belia sudah terjerembab pada sungkawa yang tak mereda.”

Iris legam saling menyapa, ada relung yang membuncah lantaran riuh suasana membara. Resonansi bicara sedalam samudera, Wendra titahkan angan kepada semesta.

“Kelak, jadilah penawar untuk seluruh luka dan pelipur bagi segala lara untuknya.”


kaserat dening,
— Werkudara & Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ