𝐍𝐄𝐓𝐑𝐀 π’πˆ πŒπ€ππ†π€π‹π€

─────────  ✾  ─────────

• Anandini Naeswari Pratibha  


• Adiratna Pratibha  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎ Kedai Damai  —  17.27 WIB


Langit Yogyakarta terlihat gelita bahkan hingga petang tiba. Menjadikan Kedai Damai milik Ratna sepi dari kedatangan para manusia. Ia mengambil sebuah lap dari arah dapur untuk membersihkan meja-meja sebelum kembali ke rumahnya.


Ketika berjalan menuju tempat meja berada, ia melewati sosok putri kecil yang selalu setia menemaninya di mana saja. Dilihat buah hatinya tengah berkutat dengan sebuah buku dan pena, mengerjakan tugas yang diberikan oleh widyaiswara. 


Biyung, ada yang mau aku tanyakan.” Yang ditanya hanya berdeham sembari membersihkan meja. Namun pergerakan wanita tua itu berhenti seketika, kala Andin melontarkan sebuah tanya yang enggan Ratna dengar sepanjang hidupnya. “Apa sebab Biyung melarangku untuk bertemu dengan Romo dan Wira?”


Enggan membuka luka lama, Ratna mengabaikan pertanyaan anaknya dengan sebuah tanya, “kamu sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah?” 


Biyung, kalau aku bertanya, jawab saja. Aku sudah menahan pertanyaan ini sedari lama. Butuh keberanian besar  bertahun-tahun untuk menyampaikannya. Jadi tolong jangan hindari lagi pertanyaan ini, ya?” Andin mengepalkan tangannya, bermaksud untuk memperkuat diri agar tak tumbang lagi karena sanggahan dari Ratna.


Mendengar penuturan dari anaknya, Ratna pun duduk dan menghela napas panjang sebelum berbicara. “Dia itu hanya meluangkan waktu dengan kita saat hari libur saja.” Netranya menerawang jauh entah ke mana. “Wendra … Sepanjang hidupnya hanya mementingkan negara. Bahkan ketika Biyung bersalin saat kelahiranmu saja dia tak menampakkan rupa.”


“Tapi itu perilaku Romo bukan Wira. Lantas kenapa Biyung melarangku bertemu dengan dia? Wira salah apa? Bukannya dia tak berbuat apa-apa? Bukannya waktu kalian berseteru Wira masih berusia tiga? Bukannya” Penuturan Andin terpotong lantaran Ratna tiba-tiba berjalan ke hadapannya, berjongkok, dan mencengkram kedua lengannya. 


Nduk.” Ratna menatap manik mata Andin dengan saksama, seolah mencari celah agar sang sulung memihaknya. “Andin paham akan arti buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Sudah pasti dia saat dewasa sama seperti Wendra, karena keduanya tinggal bersama. Jadi, Biyung harap kamu tak lagi berhubungan dengan mereka yang lebih mementingkan negara dibanding rasa cinta. Karena itu akan membuat kamu terbelenggu oleh rasa lara.”


Tak ada sahutan dari si sulung lantaran ia terlalu fokus menahan rasa sakit atas cengkraman yang dilepaskan oleh ibunya. Tersentak ia ketika hendak mengajukan tanya, tapi netranya malah melihat rinai  tiba-tiba keluar dari manik mata Ratna. Didekapnya erat raga renta penuh luka. Diusapnya punggung yang bergetar hebat penuh beban dan derita. Ditenangkannya isakan penuh duka.


Kini ia paham mengapa sang ibu tak pernah berkenan membicarakan ayah dan adiknya. Tak lagi ia mengajukan tanya. Akan ia turuti titah untuk tak lagi bersua. Apapun akan dilakukan agar sosok wanita yang di depannya sepanjang hidup hanya mengeluarkan tawa, bukan derai air mata.


kaserat dening,
— Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ