ππππππ ππππ πππππ
───────── ✾ ─────────
───────── ✾ ─────────
γΎ Camp Coffee — 20.11 WIB
Huru-hara jalan raya berkelana, meloka bersama semilir bayu yang menerpa. Yogyakarta manifestasi alam raya yang memikat tanpa cela. Menjadi konsolasi duka atas segala penat yang menyesaki kepala. Kota Pelajar yang mencorakkan cikal bakal pertukaran rasa untuk diukir menjadi jejak cerita romansa. Hingar-bingar laksana jenggala untuk jelma yang menikmati ketersesatan di dalamnya.
Berparak dengan insan yang memadu romansa, seorang wirya dan rama beranjangsana pada tempat nun asingkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Bernaung pada sebuah tenda dengan makanan ringan yang tertata di atas meja, binar teruntai pada durja. Sepasang lesung tertanam di muka, memeka ratri bersama adalah esensi yang menumbuhkan euforia.
“Mahawira.”
Melarikan pandang pada tungku dengan agni yang menyala, empu asma melirik melalui sudut netra. “Romo kalau ndak mau bantu, jangan perintah melulu,” hardiknya menolak segala mandat yang akan diterima.
Wendra berkelakar menanggapi celetukan sang putra. Memirsa Mahawira yang khidmat melayur jagung pada kobaran bara sementara dirinya berleha-leha. Ia berkata, “Leren, Le. Lihat, sudah sebanyak ini mahakaryamu.” Menjangkau lopak berisi jagung yang menghitam sepenuhnya, ia berderai tawa. “Romo dulu, sering dimarahi Biyungmu karena kalau masak, semua jadi abu. Kala itu, kamu sama Mbakyumu tertawa lugu memeka Romo yang termangu.”
Menyibak rikma selagi mengumbar gelak bersama, Mahawira bangkit dan mendudukan diri di sebelah Wendra. “Romo, kita temui Biyung dan Mbak Andin, ya?” Ajakan tanpa aba dilesatkan begitu saja.
“Kamu saja, Le. Temui Mbakmu sana, sudah lebih dari dasawarsa kalian tidak berjumpa.” Usai menyingkirkan jagung yang tak bisa lagi dimakan, Wendra mendekatkan telapak tangan pada hangatnya bakaran arang. Sendu nan bersarang, ditikam pilu tak menghilang. “Romo tidak mau bertemu mereka.”
Meneguk cawan berisi teh hangat, ditatapnya sang ramanda dengan lekat. “Mau sampai kapan Romo tertunduk diam menyapa diri dan mengeja sepi?”
“Lantas, untuk apa kembali pada rumah yang tidak bisa ditinggali?” Wendra mendebat. Setakar alis terangkat. Jemari diremat ketika lara menjerumat. “Le, kendati saling mengasihi, Romo dan Biyung selalu berakhir memunggungi.”
Bibir Mahawira terkatup rapat. Berkutat pada kalut nan membinjat. Menilik gelagat Wendra yang tengah tercekat, biru berkelibat lantaran ia turut teringat lengking argumentasi Wendra dan Ratna yang mengikis akal sehat.
“Romo seorang magistrat yang mengabdi pada pertiwi, akan tetapi dara itu menamai diri sebagai oposisi,” ungkap Wendra dengan manik berkilat. Sungkawa kian berlipat dikubur oleh senyum cacat. “Kau mengerti, Romo ndak suka ditentang acap kali ada kasus yang harus ditangani. Pun dayita itu selalu merecoki dan memaksa tuk berhenti. Walakin seorang suami, Romo bukan seorang yang tunduk diperintah sesuka hati.” Lamat menatap ragil yang berat berikan anggukan sependapat, ditautkan astanya dengan sang putra dengan erat. “Romo sudah bahagia kini, sebab ada kamu di sisi.”
Memaksa kurva bertakat mencuat, sorot redup terpahat. Mahawira labuhkan gugat nan amat menyayat. “Harga diri Romo terlalu tinggi. Memilih menyiksa diri dengan sunyi yang menyesaki. Sesukar itu untuk kembali dan perbaiki relasi?”
“Romo enggan kembali pada hati yang meminta pergi.”
Comments
Post a Comment