𝐈. πˆπŒππ‘π„π’πˆ

 ─────────  ✾  ─────────

• Anandini Naeswari Pratibha  


• Kasetra Satyawangsena  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎ Gedung DPRD, Yogyakarta  —  14.05 WIB


Sorak-sorai para sukma di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Yogyakarta menggema. Tepat hari ini, sejumlah mahasiswa mempertanyakan keadilan warga kepada para penguasa yang ‘katanya’ bertanggung jawab terhadap urusan negara. Ribuan kepala mencoba menyamakan suara, mengucap sumpah mahasiswa, lalu menyetujui orasi yang dituturkan oleh sosok perjaka muda di tengah sana.


Terlihat dua atma dilanda dilema kala mengetahui bahwa urusan mereka harus berhadapan dengan ribuan jiwa yang dipenuhi oleh semangat membara. “Wah … Tahu gitu aku enggak ikut kamu Tra, kalau ternyata harus melihat mereka,” tutur seorang wanita dengan bermuram durja.


Laki-laki jangkung di sebelahnya hanya merutuki diri sedari mereka tiba. Seolah keputusan yang dibuat adalah kesalahan fatal yang membuat suramnya suasana hati dari sang dara. Ia begitu paham bahwa juwitanya tak menyukai jenis perkumpulan yang berada di depan sana. “Aku lupa kalau hari ini ada demo dari para mahasiswa. Mana aku sudah semangat buat rampungin tugas terakhirku di UKM hari ini ke ketua. Maaf ya? Atau aku antar kamu pulang sebentar saja?” 


“Enggak usah, Tra. Aku tunggu di sebelah sana. Kalau sudah selesai kabari saja.” Yang dititah hanya mengangguk dan bergegas mengerjakan tugas. 






Adzan dhuhur telah berkumandang, para mahasiswa terlihat berlalu-lalang, mengambil jatah makanan yang disediakan secara bergiliran guna mengisi energi agar bisa kembali berperang. Pun, sudah sekitar tiga jam lamanya Setra belum jua datang, Andin sudah tak tahan untuk beranjak pulang. 


Ndak ikut bergabung ke sana?” Tiba-tiba seseorang menduduki bangku sebelahnya dan mengajukan tanya. “Sedang menunggu temannya mengambilkan makanan atau bagaimana? Kalau iya, saya izin temani sampai dia tiba. Soalnya kalau sendirian bahaya, nanti tiba-tiba bisa ditarik oleh oknum yang tidak diketahui identitasnya.”


Pantas saja ditunjuk untuk berorasi, wataknya begitu teliti dan amat peduli.


Bukannya menanggapi topik obrolan yang sedang dibangun oleh orang di sebelahnya, Andin malah mengajukan sebuah tanya, “Memang mahasiswa wajib sekali untuk berunjuk rasa, ya? Bukannya tugas kita cukup menimba ilmu dan mengerjakan segala tugas dari para widyaiswara?” 


“HAHAHA.” Sadar lantaran sang dara bukan bagian darinya, ia hanya bisa tertawa. Bukan hanya karena salah sangka saja, namun juga penuturan dari rekan obrolnya yang tidak bisa ia terima.


“Aduh ngapunten Mbak saya cekikikan, pertanyaanmu itu lucu tenan. Kamu betulan penasaran?” Belum juga Andin memberi sahutan, perjaka di depannya kembali melanjutkan, "Mbak, memang benar sebagai mahasiswa itu tugas utama menimba ilmu sampai negeri China. Tapi saya rasa ndak ada gunanya bila kita melewatkan kesempatan untuk membantu rakyat kecil yang ingin suaranya didengar oleh para kuasa negara.”


“Lantas, kenapa bukan mereka saja yang turun untuk bersuara? Kenapa malah memanfaatkan para mahasiswa yang seharusnya duduk mendengarkan penyampaian dari para widyaiswara?” 


“Sebab kampus sebagai ruang akademik yang inklusif telah menjadi benteng terakhir perjuangan rakyat. Bila hanya diam dan dikebiri oleh birokrat, maka negara akan semakin cacat dan nantinya menjadi tontonan menyenangkan bagi para pejabat keparat. Pun, mendengar asumsimu, saya meramal bahwa kamu akan sederajat dengan orang-orang bejat.”


Hendak menyanggah, namun terdapat suara dari atma yang datang seolah menjadi penengah. “Andin? Dia siapa?” Setra mengajukan tanya, sosok perjaka muda di sebelah kekasihnya nampak asing dipandang oleh netra.


“Dia?” Sebelum menjawab tanya, ia berdiri sembari memicingkan mata kepada mahasiswa muda yang sedari tadi duduk bersamanya. “Orang penggila urusan negara.”


kaserat dening,

— Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ