ππ. πππππππ
───────── ✾ ─────────
───────── ✾ ─────────
γΎ Sangmane Studio, Yogyakarta — 16.48 WIB
Dirgantara suguhkan iras sendu. Menjadikan beberapa insan yang berada di luar ruangan tampak terburu-buru. Barangkali memang dikejar waktu atau tengah melarikan diri dari tetesan semesta yang akan menyingsing hawa beku. Tak butuh waktu lama bagi jumantara yang dikelilingi mega kelabu mulai meluruhkan deru.
Rinai tiba bertalu. Pada bentala Ngayogyakarta, rintik mencumbu. Mengadu penjuru layu membahu hiru biru. Nikmati hujan nan menderu, tuan dan nona berjibaku pada secawan kopi susu yang bumbungkan uap hingga menggebu. Hendak sampaikan pamit pada kemarau, mereka bersitumpu pada meja kayu. Menatap linang air yang berliku, sementara pikiran berseteru mengenang masa dahulu.
"Aku baca buku-buku ciptaanmu."
Bagai sebuah peluru, lisan menjuru. Pualam saling bertemu, lamun raut sengau senantiasa bercokol tuk bersekutu. Tak lagi bernafsu membelu pilu. Sebab, wirya tak tahu malu memantik kurva nan berpadu. Decit sang dara pun menjamu.
"Atas izin siapa kamu baca tulisanku?"
Memeka tutur menancap kalbu, tanpa ragu yuwana yang dudukkan diri pada bangku memasung lengkung semu. Menempatkan empu dari paras juwita itu rikuh lantaran masa lalu nan membelenggu.
“Kamu masih sama seperti beberapa tahun lalu.” Lesung menjamu. Desau kritik terdengar merdu. Garis melintas menyaru. Dayita yang disapa beberapa detik lalu bak nilbiru, ia gerakkan tangan dengan ambigu. “Ah— atau aku yang enggak pernah mengenal sosok aslimu?”
“Lucu, ingin menyebutmu sebagai adikku, kita bahkan enggak pernah ketemu,” gerutu puan mata sayu. Tak sadar meramu derai lugu, jejaka yang kenakan setelan warna abu menyerbu gelak nan merebu. “Mahawira, kamu tahu? Sempat aku sangkal penuturan Biyung tentangmu.”
"Bicara apa wanita itu?" tanya Mahawira, jelaga bersembilu.
“Wanita itu?” Andin tirukan bait tanya, ekspresi segelap payoda bersulam pada durja yang jelita. Sindiran disampirkan saat dirasa pemilihan kata adiknya tak layak diperdengarkan pada telinga. “Romo enggak ajarkan tata krama padamu?”
Andin alihkan atensi keluar jendela. Tangisan langit semakin deras rupanya. “Pernah aku menyangkal bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya sebab aku percaya padamu. Namun, hari ini aku temukan jawaban itu. Romo enggak benar-benar terbujur kaku. Dia hidup dalam dirimu.”
“Hanya peduli pada negara, tidak dengan keluarga. Gila kerja, kamu pelihara sindrom kepahlawanan belaka.” Andin menghunus melalui runcing frasa. Iris berwarna coklat tua terotasi lantaran cua mengembara. “Biar aku tanya. Memangnya negara peduli dengan kita?”
Menggali jejak memori lama, usai menarik sepasang sudut bibirnya ia melipat kedua tangan di depan dada. Sejenak bahunya berguncang seirama. Mahawira ikut serta menajamkan lisannya. “Mbak, kamu tahu apa tentang negara?” Mengecap manis kopi dengan indera perasa, membalas ujar Andin dengan cempala meski keramahan menyalip pada rupa. “Tulis bukumu aja, jangan campur tangan perihal pengabdianku pada nusantara.”
Mendengus malas, Andin pun menandas, "Tanpa kamu minta, aku sudah melakukan hal serupa." Ada puas yang terlintas ketika ekspresi Mahawira berubah culas.
“Genap sapta warsa hari ini, tuntutan aksi yang kamu ikuti, seruan aspirasimu ketika berorasi, enggak pernah ditanggapi. Kini, otoritasmu sebagai jaksa jua kerap dibatasi. Oh, atau kamu juga mengejar kredit jabatan dari petinggi?” Meneguk kopi hingga tandas, penuturan Andin berintonasi sarkas. Keramahan terkuras, ia bergegas memperjelas. “Itu cukup menjadi eksplanasi perihal tulinya negeri.”
Seri tidak terburas, Mahawira gulirkan pandang pada sekat kaca yang di mana tirta bertempias. Ia memainkan deriji di ujung gelas, membingkas argumentasi Andin dengan beringas. "Negeri ini tuli karena para pejabat birokrasi apatis sibuk menggerayahi posisi, enggak peduli dengan kelaliman yang menggerogoti."
“Negara enggak peduli dengan rakyatnya, karena ada banyak orang seperti Mbak di dalamnya.” Selepas berkias, Mahawira mencela dengan antusias. Melibas sembari memulas bahak nan berias. “Mbak Andin, jika nanti dapat tawaran kursi, tolak dan jangan diakuisisi. Lebih baik kamu berkutat pada larik berisi diksi. Orang sepertimu, jangan duduk di kursi aristokrasi dan menamai diri sebagai petinggi, nanti negara makin tuli.”
Hasrat tuk agumi hujan yang menderas serta aroma tanah yang khas berangsur bablas. Andin menghela napas. Perdebatan akan memanas bila ia tak mengandalkan rasionalitas sebagai sosok yang lebih waras. “Apa rencanamu setelah ini? Romo sudah pergi.”
“Hidup sendiri, memang apa lagi?” tutur Mahawira seraya tersenyum samar. Sebelum Andin ajukan sahutan, ia lebih dahulu menyambar. “Jangan tawari aku hidup satu atap, aku bisa darah tinggi karena kita bertikai setiap hari.”
Riuh tawa Andin terdengar. Anindira yang memikat netra, torehkan lengkuk nan tergambar. “Aku juga enggak sudi menaikkan intonasi acap kali menanggapi idealismemu yang tinggi.”
Karsa menguar, tanpa sadar kurva sepasang saudara beranjak menjalar. Tak ayal bertukar kelakar atas perdebatan tidak berakar. Dari atas gedung pencakar, mereka tilik guntur yang menggelegar memanifestasikan getar. Memirsa hingar-bingar selagi bilur membumi pada bentala Kota Pelajar.
“Aku akui, senang kita bersua lagi.” Mahawira berkomentar. Sarangkan pipit kala tersenyum lebar. Punggungya menyadar tatkala gelaknya tercuar. Hanya sebentar, sebab rupa gahar tiba-tiba mekar. Ia gencar mencecar, “Garis bawahi, aku angankan, kita enggak dipertemukan kembali di lain hari.”
Enggan menggubris suasana kelam yang berpendar, pupil Andin membesar. Dia menyelingar akibat janggal tersuar. Menebar dakar, ia memaut raut berbinar. “Lagipula, relasi kita ini udah enggak bisa diperbaiki. Hidup masing-masing dan menjadi sepasang asing seperti dulu lagi adalah opsi terbaik yang bisa kita jalani.” Sekadar ucap tajam bak belukar pun menampar.
“Kabari— jika Mbak ikrarkan janji suci,” cakap Mahawira tersiar. Sentimen berwujud lontar dengusan kasar seolah menjadi pagar. Ia lalu beralih pada ponselnya yang bergetar. “Aku enggak janji bisa hadiri. Pun bukan ahli mewejangi. Tetapi, biar aku peringati pria yang menikahimu nanti; ia harus menjagamu sepenuh hati.”
Tiada sanggahan Andin sodorkan. Jemari ditautkan, tidak menanyakan permintaan adiknya barusan. Tidak suarakan protesan, ia menyesap isi cawan seraya kepala terangguk pelan pada insan yang yang maniak keadilan.
Bersamaan lampu remang dinyalakan Mahawira beranjak dari persemayaman. Lamun, perkataan Andin menghentikan pergerakan.
“Hubungi. Kalau kamu butuh ruang membagi beban nan menyesaki, aku ada di sini.”
Sejenak termangu dalam pijakan, asta Mahawira terkepalkan. Wajah dipalingkan, derap berdesir menanggalkan ketukan. Sosoknya lenyap dari pandangan. Larik ini dinamai; perpisahan.
Comments
Post a Comment