πππ. ππππππππ πππππππ
───────── ✾ ─────────
───────── ✾ ─────────
γΎ Reka Nirmala, Yogyakarta — 14.05 WIB
Derap langkah sepasang kaki berbalut pantoefel menggema. Terlihat seorang dara sedang berjalan dengan tergesa menuju suatu ruangan berisi seseorang yang memberi titah kepadanya. Jam yang berada di tangan menunjukkan pukul dua lebih lima, membuatnya semakin merutuki para pengendara karena tak memberinya akses untuk terlebih dahulu melewati mereka.
Setelah menapaki beberapa anak tangga, ia pun tiba. Diaturnya napas yang menyesakkan sukma, lalu tangannya dilayangkan untuk mengetuk pintu yang berada di hadapannya.
“Masuk,” titah seseorang yang berada di dalam ruangan, agar ia tak berlama-lama menunggu di depan.
“Selamat siang Pak Langga. Perkenalkan asma saya Andin, saya tadi diberi tahu oleh rekan kantor untuk menghadap ke Bapak.” Perkenalan Andin hanya ditanggapi dengan gestur Langga yang menyuruhnya untuk duduk di sofa.
Setelah keduanya sama-sama memposisikan diri untuk menemukan kenyamanan saat bertahana, Langga mengajukan sebuah tanya, “bagaimana penjualan bukumu?”
Andin menautkan kedua alisnya, heran akan pertanyaan yang diajukan oleh Langga. Karena baginya, untuk mengetahui progress penjualan buku yang ia reka, bisa mempertanyakan tim marketing, bukan dirinya. “Kemarin saya diberi tahu oleh salah satu tim marketing, Puji Tuhan ada peningkatan penjualan kali ini. Banyak masyarakat yang rupanya membutuhkan buku non fiksi, untuk mengembangkan diri.”
“Begitu ya, saya lega mendengarnya.”
Selepas Langga menanggapi jawaban, tak ada lagi percakapan. Mereka tenggelam akan keheningan. Hingga akhirnya sang dara sadar bila dirinya tak memecahkan kesenyapan, hal seperti ini akan terus berlangsung dalam satu jam ke depan. “Pak Langga, maaf bila menyela. Apakah hanya ini saja yang hendak disampaikan kepada saya? Karena hari ini bukan hari kerja, kebetulan saya sebentar lagi ada jadwal mengajar bimbingan belajar para siswa.”
“Bagaimana kalau kali ini, kamu coba menulis buku fiksi?”
“Ya?” Menerjapkan mata, sepertinya Andin salah mendengarkan pertanyaan dari Langga. “Bapak tidak salah?”
Sudah diduga, pasti Andin akan menunjukkan tanda-tanda menolak tawaran yang diberikan olehnya. “Melihat penjualan pesat dari buku yang terakhir kali kamu reka, agaknya sayang kalau kita tidak memanfaatkan situasi untuk menghasilkan laba.”
“Mohon maaf Pak Langga, bukannya saya membantah perintah Anda. Namun buku-buku yang saya ciptakan, sepertinya sudah cukup untuk memenuhi penjualan bulanan.” Tentu sebisa mungkin Andin bantah, penulis mana yang mau bila ciri khas yang dimiliki seenaknya diubah.
Paham lantaran akan menolak tawaran darinya, Langga pun mencoba memberi sebuah kalimat yang sudah direncanakan sebelum bertemu dengan sang dara. “Saya rasa sebagai seorang pekerja, hendaknya kita memiliki keinginan untuk terus menciptakan kemajuan baik untuk diri sendiri maupun perusahaan yang menaungi kita.”
“Saya paham dengan maksud Pak Langga. Namun sepertinya saya memang tidak memiliki bakat dalam menulis buku selain di dalamnya berisi sebuah fatwa. Kalau saya terima, takutnya nanti malah tidak memenuhi ekspektasi para pembaca.” Kepalan tangan semakin menjadi, ingin rasanya Andin segera mengakhiri percakapan ini dan lekas pergi.
“Oke begini, enggak apa kamu sematkan kalimat memotivasi, seperti halnya buku-bukumu yang sudah terpublikasi, tapi genre tetap diganti.”
Jenis negosiasi apa yang dituturkan oleh orang tua ini?
Mustaka miliknya terasa tak karuan. Pundaknya seperti menanggung beban. Hanya helaan napas berat yang bisa ia keluarkan. “Sepertinya keputusan Anda tidak bisa diganggu gugat ya, Pak Langga.”
“Ya pilihan kan ada ditanganmu. Kalau mau menolak, sila bayar penalti yang ada di kontrak.” Tak ingin Andin kembali mengelak, Langga pun akhirnya menuturkan kalimat yang membuat dara di depannya kalah telak.
Melihat Andin yang tak menyanggah lagi, Langga merasa bangga karena sedikit lagi akan berhasil meluluhkan hati. Lalu, ia pun menambahi, “begini, saya tambahi keringanan. Perusahaan nanti akan ikut andil dalam mencarikan kamu seorang kenalan. Karena akan lebih sempurna rasanya bila membuat buku yang mengangkat tema pembunuhan, bersama dengan orang yang ahli dalam penyelidikan.”
“Orang yang ahli dalam penyelidikan?” Kedua alis Andin ditautkan, ia heran. Tak paham dengan mandat yang diamanatkan oleh sang atasan.
Kelakar Langga bersambang pada pendengaran. Miliki kewenangan yang terbantahkan, ia selingi guyonan. “Iya, kalau menemui tersangka di penjara kan bahaya. Hahahaha.”
“Harus dijawab hari ini juga? Atau Bapak memberi waktu kepada saya?”
“Hm … Saya beri waktu maksimal dua hari saja, bagaimana?” Tak membutuhkan waktu lama penawaran Langga untuk disetujui. Setelahnya, Andin pamit untuk segera pergi.
Comments
Post a Comment