πˆπ•. π’π€π“πˆπ‘πˆπ’ ππ„ππ†πˆπ’

 ─────────  ✾  ─────────

Mahawira Wisaka Kawidagda  


• Layang Samba  


─────────  ✾  ─────────

γƒΎ Kejaksaan Tinggi, Yogyakarta  —  16.57 WIB

Surya bersenggama jingga. Jantung kota Yogyakarta bersenandung huru-hara mengeja senja. Rapat kerja sajikan silat lidah mengabutkan logika yang tak temukan titik terang jua. Beberapa memasang telinga, khusyuk memirsa kawula muda yang tajamkan verba. Ada pula yang bergaya seakan membaca catatan pena atau menyibukkan diri dengan layar yang menyala, sementara letih pada daksa sudah tak terkias oleh lisan belaka.


Pada garda utama, jejaka berasma Layang Samba tempati singgasana, tak terkira ritmenya memijat kepala. Pening mendera secara berjangka karena dipaksa memasang telinga pada seorang penuh wibawa meninggikan resonansi suara. Ah, dari urat yang menyembul di balik urat leher tertera gejolak emosi yang membara, makin dongkol ia, celoteh yang melarung waktu pula diabaikan begitu saja menjadi argumentasi nan tak tentu ujungnya.


Samba tengok kawan karib yang terlena menggores tinta pada moleskine dengan corak berma. Ia menggelengkan kepala, gelagat tanpa dosa meski bukan kali pertama menjadi pelaku utama yang menoreh prahara di ranah kerja. Sengaja mengintai seksama, ia mengusik teman yang duduk tenang di sisi kanan setakat menghentikan rajutan aksara.


Iris berbeda warna saling menyapa. Garis muncul di antara bibir yuwana, mencipta sarang pipit kian tersulam pada durja. Mengikuti arah pandang Samba, ia menggulir atensi pada subyek yang berambisi tuk sampaikan gugat prasangka. Kerling dua pemuda yang bertolan sejak lama, bubuhkan pemikiran serupa. Kendati jarak mengudara, pun tanpa tutur yang menyerta, mereka tergelak tanpa memusakakan suara.


“Tertawa kau, Mahawira?”


Solah jenaka terpaksa dijeda sebab seorang punya kuasa berseru murka. Melampirkan angkara, konklusinya dijadikan isapan jempol semata. “Bangga bisa menentang regulasi kita?” Berdeham dan mainkan ekspresi di muka, pria setengah baya tersebut menggait pelantang untuk berkata, “kurun sebulan sudah tiga kali mendapat surat peringatan. Kini, mencanangkan untuk kembali membuka perkara yang sudah mendapat keputusan? Akal sehatmu kau gunakan?”


Sang teruna beringsut dari kedera, melanting daluang bertuang pernyataan dakwaan yang termaktub pada tulisan tegak bersambung nan sukar dibaca. Dwicagak menopang perangai tegapnya, meleburkan yojana guna berdikari di depan kursi di mana seorang pengetua berada.


“Keputusan Mahkamah Agung hanya memuat kejanggalan. Saya ajukan permohonan agar kasus ini dipindahtangankan.”  Bahana sedalam palung bergema. Mahawira dengan kilat menyala, bersikeras memaksa. “Alihkan pada saya, akan saya leraikan hingga keganjilan menemukan jawaban.”


Memperoleh pertentangan dan penolakan, racauan ketidaksetujuan merisak pendengaran. Sebagian mencemoohnya sebagai orang gila keadilan. Menyerang dan beranggapan bahwa sang adhyaksa miliki sindrom kepahlawanan.


"Terdakwa tidak pernah ingin melakukan penganiayaan dan hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi dengan melakukan penyiraman cairan air keras pada bagian badan." Mahawira menilas penuturan yang tidak dilupakan. Terekam jelas pada ingatan, sosok tanpa keraguan yang haturkan racauan tanpa perasaan. 


Kembali mencerna kalimat yang bertentangan dengan jalan pikiran, empu rikma kecoklatan mengepalkan sebelah tangan. Selagi menandaskan rahang, ia lafalkan dakwaan yang menuai penyimpangan. "Berdasarkan Pasal 353 ayat 1 KUHP, saya selaku penuntut umum mengajukan permohonan agar terdakwa dijatuhi hukuman sebanyak satu tahun tahanan." Respirasi berhembus pelan tatkala ia menahan seringaian. Mati-matian membubuhkan lirikan pada subyek sindiran, lamun desau ketegasan merangkak satu frekuensi kemudian. "Lantaran penyiraman cairan air keras pada tubuh korban merupakan— ketidaksengajaan?"


Pungkasan ucapan yang naik satu oktaf berotasi menjadi pertanyaan. Timbulkan kernyitan bagi mereka yang turut mendengarkan. Mendaratkan stopmap sebagai wujud kekesalan. Ia berbalik badan dan berdecak selagi mengandarkan kritikan. “Samba, nalarmu kau ke mana kan?”


Kebingungan berseliweran mengisi penjuru ruangan. Sedianya hawa membosankan bersilih menyita perhatian. Samba tak menutupi keterkejutan, bahkan kalam yang terselip di antara deriji tergeletak pelan. Ia tercekat keheranan, menegur melalui picingan dan hardikan berwujud desisan peringatan lantaran sudah disangkut-pautkan.


"Tidak ada niat melukai tapi memberikan pelajaran?" Abaikan teguran Samba yang mengusak wajah syarat kefrustasian, protesan Mahawira gaungkan tanpa sungkan. Terang-terangan mengutarakan ketidaksetujuan. "Bukankah tuntutan satu tahun penjara teramat ringan?"


Tak tergoyahkan, sahutan pria yang sudah beruban membalik pertanyaan. "Alasan?"


"Saya tidak menemukan unsur ketidaksengajaan." Memaparkan dokumen yang dipersiapkan seraya mempertahankan opini yang berseberangan, Mahawira yang tak ciut nyalinya mengulas kronologi kejadian. "Realita bahwa terdakwa menyiram air keras pada korban usai menjalankan ibadah sholat subuh adalah bukti bahwa tindakannya sudah direncanakan."


"Mohon izin memperingatkan." Jemari terangkat setara. Ajun madya yang didapuk menjadi notulensi ikut berdiri guna mengulas enigma. "Bukankah penyelesaian dari kasus tersebut telah ditemukan?"


Memutar kepala, kernyit pada dahi jelma yang mempertuan pikiran merdeka menjungkar kentara. “Siapa mentormu ketika pelatihan hingga seluk-beluk krusial seperti ini masih kau tanyakan?”


"Saya mentornya." Sahutan ditujukan kepada jejaka yang agihkan protes tidak terima, paruh baya perlihatkan kecut senyumnya, sandarkan bahu seraya menyilangkan kaki di bawah meja. Masih berkontak mata, ia lesatkan cangkriman kedua. "Sendirinya miliki alasan apa sampai berani menentang keputusan Mahkamah Agung?"


Para handai satu peran sigap memindai catatan berisi riwayat kejadian dengan cermat. Pupil bergerak kilat. Berupaya mencerna analisis kasus meskipun mereka nyaris tercekat. "Ralat ucapanmu, Wir," lirih salah seorang teman berbisik menggunakan dendang berat, berusaha jadi penyelamat dalam situasi tepat usai pertimbangan singkat tuk meraih sepakat.


Sementara Samba menggigit bibir ketika sang kawan yang berdiri menjulang dihadapan banyak orang sedang bersiap menggurat ayat berjerumat untuk mendebat. Cemas berpahat, hendak ia lecutkan maklumat dan berniat melontarkan pembelaan yang kuat. Tetapi, penyelia memberi isyarat agar dia tidak ikut berpendapat.


“Saya menentang keputusan yang merugikan.”


Tangkasan oposisi mendeklarasi kernyitan dari jajaran aparatur yang berada pada bilik yang sama. Terkecuali sosok manungsa, duduk pada baris kelima. Khidmat menopang dagu sambil menyingsingkan secarik garis di rupa.


Kerut muncul diantara alis jajaran adhyaksa. Fatwa yang dilesatkan Mahawira tak seirama dengan rangkai fakta yang disusun sedemikian rupa. Kedua lengan beringsut tuk terlipat di depan dada, yang lebih beraneka pengalamannya pinta secorak darma, "Beri eksplikasi agar argumentasimu tidak hanya menjadi asumsi."


"Keputusan hakim tidak mencantumkan keadilan yang saya dambakan." Mahawira berujar lugas. Lesungnya masih berbekas. Mengabaikan desas-desus yang memanas akibat gagasannya dinilai tidak waras, diurainya diksi nan mengikis rasionalitas. "Perbuatan terdakwa dapat diklasifikasikan sebagai kasus penganiayaan berat dan satu tahun hukuman tidak sebanding dengan tindakan yang dilakukan."


Tampak antusias, dengan pangkal mulut yang tak kunjung kandas, beliau melibas. "Seandainya kamu menjadi penuntut umum yang menangani kasus tersebut, dakwaan apa yang akan kamu ajukan?"


Tiada gentar nan terpulas, Mahawira menandas tegas. "Saya labuhkan dakwaan sesuai pasal 355 KUHP."


"Pasal 355 hanya bisa dijatuhkan andai kata terdakwa memang berencana dan berniat untuk melukai korban."


Gelegar lain menyahut. Pandangan tersangkut pada lelaki yang mulanya duduk di kursi paling sudut. Derapnya bersisurut, melebur kemelut nan hanyut. Carik bahak tersangkut, congkak setelah campur mulut.


"Sedangkan fakta dalam persidangan, terdakwa tidak pernah ingin melakukan penganiayaan. Dia hanya memberikan pelajaran."


Bukan grusah-grusuh para beskal yang merangkai kata, melainkan manungsa yang sedari tadi memeka perbincangan bertuai sengketa. Beranjak dari baris kelima, pria yang tiba tanpa aba serentakkan tundukan kepala. 


Dalam hening, mereka menanya, sejak kapan dia bertandang di sana? 


Mengantongi sepasang tangan di balik saku celana, yang lebih dewasa beradu pandang dengan si wirya nan tak goyah berswapraja dengan ideologinya. Tecondongkan raga, membisikkan segelintir bait pada daun telinga ‘tuk mencerca, "memafhumi ihwal yang serupa namun tak sama pun kamu tidak bisa."


"Untuk mengindra perihal sengaja dan tidak sengaja pun, Anda tidak bisa." Desir pemilik setakar dekik berkelana. Memelankan pita suara, Mahawira yang  jemawa balas berkusu pada cuping lawan wicara. "Atau memang sudah tahu disengaja dan memanipulasi berita acara pemeriksaan agar terdakwa tidak mendapat hukuman yang memberatkan."


Mencuaikan jangka, Mahawira kembali pada posisi semula. Menandu kausa, sang antiwirawan angkat bicara. "Seseorang yang tidak merencanakan penganiayaan, tidak akan melanting asam nitrat pada mangsa sasaran. Bukankah saya benar, Tuan?"


Mengambil alih moleskin yang tersemat pada genggaman asta milik sang adhyaksa, walakin kernyit melintang sebab tulisan tangan begitu cendala untuk dijamah manik netra, laki-laki yang mengenakan setelan berwarna abu tua lantas bersuara, "yang bersangkutan telah berterus terang selama persidangan. Terdakwa meminta maaf kepada keluarga korban. Dia menyesal atas telatah yang dilakukan berakibat mencoreng institusi pemerintahan."


"Permintaan maaf merupakan kewajiban seseorang yang melakukan kesalahan. Selebihnya dinamika hukum tetap berjalan," sergah Mahawira membantah pembelaan. Menentang cacat pikiran, seutas konklusi disampaikan. "Bila perdamaian dijadikan alibi untuk tidak memperunyam persengketaan dan membenarkan ketidakmanusiaan, maka rakyat bisa krisis kepercayaan pada aparat pemerintahan."


"Maksud saya bukan demikian. Saya hanya memberi jalan tengah terhadap permasalahan." Sanggahan narapati bertajuk kedongkolan. Pembenaran dilucutkan. "Bukankah manusia sejatinya selalu memiliki keinginan merampungkan masalah dengan cepat dan tanpa merasa dirugikan?" 


"Dan jalan tengah tersebut menjadikan terdakwa bebas dari segala tuduhan?" Sangkalan melawan keluputan. Mahawira meluncurkan kesimpulan nan mengoyak kezaliman. "Hukum bukan bahan perundingan yang dapat dinegosiasikan, Tuan."


Walakin jatmika jua berpola dan tata susila tertoreh sempurna, Mahawira mencela memintasi cencala klausa oleh narasi yang cempala. "Hukum menyediakan penghakiman, bukan penyesalan tanpa penebusan." Menempa swatantra ketika buaian tawa bersua. Lesap seketika bersama runcing frasa. "Jika segala kebiadaban dibenarkan dan kelaliman dibiarkan dengan dalih pangapura sudah dihaturkan, maka keadilan hanyalah bualan yang diangankan, sebab seorang korban acap kali dipaksa tuk memaafkan dengan kedok perdamaian kendati ia menjerit mempertanyakan keadilan. Tak ayal meringkuk ketakutan karena yang dilawan dedengkot pemerintahan."


Selang antara beranjangsana. Dwi purata yang mengurai aklamasi berisi aksoima terkait regulasi hukum yang kerap diselewengkan oleh petinggi bangsa, bersinggah di sebuah jeda. Melenyapkan hilir udara yang mula-mula mendera bersama melambungnya pita suara. Senyap bersemuka, hingga salah satunya menutur wicara.


“Nak, aku mengagumi urat keberanianmu ini. Tapi, kau adalah aparatur negeri.” Ayat kecaman milik pria tersampir bersama lentera yang memantik berwujud segaris tawa, binar menyala sejala kasat mata.


Sang lokawigna memanifestasikan kurva. Jelaga seteduh rimba bersenggama tatkala ia deklarasikan. “Sila cabut lencana saya hari ini, tak segan pula saya lucuti kejinya pertiwi.”




“Kau sungguh tidak tahu dia Kepala Kejaksaan Tinggi?”


Pekikan Samba guncangkan bahari. Melonggarkan cekikan dasi yang dirasa membatasi tatkala hendak meninggikan intonasi, ia memaki Mahawira yang meruntuki tindak-tanduk kemaki. Atma yang sempat meninggikan diri, kini mengacak surai frustasi. Kepalang ngeri jika kehilangan profesi.


“Biar aku balik ucapanmu tadi. Mahawira, kau ke mana kan nalarmu ini?” seru Samba, memukuli bahu sang rekan segenap hati. Ia emosi, namun iba di hati. Pun jeri andaikan kehilangan rekan yang menemani kaki melangkah pergi. Mendudukkan diri di sebelah laris tempat kawan meratapi, Samba memecal dahi dengan deriji, mengerik pening yang menggerogoti.  “Hampir panca warsa mengabdi, kau tak tahu siapa atasan kita kini?”


Pada lorong sepi, dua jaka yang menjalin relasi, risaukan peruntungan di kemudian hari. Kuyu terpatri, teramat buncah mencari solusi sebab lawannya adalah petinggi. Sembari mainkan ujung dasi, Mahawira  getuni arogansi. Lenggana jika kehilangan aliansi yang menaungi. Tak sudi bila karir yang dirintis sepenuh nadi, lesap dikebiri.


“Kau pikir aku peduli dengan hierarki di tempat ini?” Mahawira mengelak meski ia salah telak. Rusuh pikiran menyeruak, diguncangnya awak Samba dengan mendesak. “Aku tidak akan disingkirkan dari sini kan?”


“Kau pikir aku puya otoritas apa di sini?! Jabatanmu yang lebih tinggi pun acap kali dibatasi, maka aku bisa dimutasi!” bentak Samba, obsidiannya membeliak. Gejolak berang berparak, ia beranjak menggeplak sosok nir akhlak. “Tadi kau hanya diperingati, jangan menentang lagi. Undur diri dari kasus yang membahayakan posisi, ada banyak sawala yang bisa kau tangani.”


“Kalau digertak sekali lalu lari, siapa yang tegakkan hukum di negara ini?” dengus Mahawira berbiak. Menanak lengkung cepak, lantas menyalak. “Mau sampai berdiam diri saat negara dipenuhi tirani?”


Kelopak Samba mengepak, gerundelan berkeciak. Nafsu pretensi ditafsir sebagai lawak. Sentimen bersarak. “Ambisi bisa menjadi api yang melalapmu di lain hari. Tidak ada yang salah menjadi pecundang untuk mengevakuasi diri dari pembesar punya yurisdiksi.”


“Terlalu banyak yang memilih untuk mengevakuasi diri, sampai perkara yang tidak pernah selesai sukar dihitung jari.” tangkas Mahawira, memangkas watak keras Samba dengan sarkas. Kernyitan tak selaras menghias, lantas melibas. “Kita tahu siapa pembunuh Munir tapi dipaksa diam.”


Samba jatuhkan rahang dengan naas. Menengok sekitar dengan was-was, cemas beranjak terburas. Meletakkan telunjuk di depan bibir, cuak berbekas. “Pelankan suaramu, brengsek.”


“Berulang kali hendak mengusut dalang kasus Marsinah dan Udin, tapi dikecam. Yang kita tangkap hanya kambing hitam.” Sengaja vokal Mahawira menanjak keras. Nafsi nan bertiras, tertumpah pada diksi beringas. “Saban memulai penyelidikan hilangnya 13 aktivis 1998, kita ditikam berbagai ancam dan ditekan agar bungkam.”


“Tak lelah kau terus membantah?” Pias suram Samba terlintas kala raut tegas milik Mahawira tampak tidak bisa diberi penjelas.


“Bila bantah disergah dan disanggah oleh kecam darah nan tumpah, maka di negara ini ada yang salah.” Ujaran culas Mahawira dilecutkan penuh legalitas.


“Demikian perlawananmu harus diubah. Carilah celah. Leraikan perkara tak berkesudah.” Samba menumpas. Sekilas memenungkan impresi tak berasas, ia menukas. “Kuak dan validasikan sejarah kaprah dan bekerjasama lah dengan kakakmu yang penulis itu, sebab karya tulis tak pernah bisa dijatuhi tuduhan salah.”


Rona terkuras dari iras.  Lesung bertakat meranggas. Bahaduri Mahawira berangsur balbas. Bahunya merebah amblas.


“Wir, buang harga dirimu yang terlalu tinggi. Aku tidak butuh dalilmu yang mengatasnamakan gengsi.” Samba melesatkan pandang ke sekitar ruang. Temaram menjadi penerang atas gulita nan melintang. “Satu-satunya solusi ‘tuk amankan posisi sekaligus menyingkap defleksi adalah publikasi melalui karya sastra yang dinaungi. Hanya penulis yang tak mendapat intervensi apalagi sanksi karena rangkai aksara mereka mendapat proteksi.”


Sorot Mahawira menyalang, kendati kurva tak kunjung menghilang. “Dan bukan hanya dia satu-satunya penulis di dunia ini.”


“Memangnya kau punya siapa lagi di sisi?”


kaserat dening,

— Werkudara

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ