𝐕. ππ„π‘π’π„πŒπ”πŠπ€

─────────  ✾  ─────────

• Anandini Naeswari Pratibha  


Kasetra Satyawangsena  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎ Legend Coffee, Yogyakarta  —  20.11 WIB

Alunan suara musik menenteramkan telinga. Ranum bibir seorang perempuan sedang bersenandung ria. Tampaknya ia tengah menunggu kedatangan seorang atma. Ia berada di ruangan ini usai menerima sebuah tawaran oleh sang atasan, tentunya dengan memikirkan segala pertimbangan. Lalu, Langga menyuruh ‘sang kenalan’ dan dirinya untuk membuat sebuah pertemuan.


“Mungkin terjebak macet, ya?” tuturnya sembari mengamati kondisi jalan raya melalui maps yang berada pada layar ponselnya. Bila dilihat secara saksama, sudah lebih dari sepuluh menit rekan barunya tak kunjung menampakkan rupa. Tak ingin waktu terbuang sia-sia hanya dengan menunggu saja, astanya bergerak mengambil sebuah daluang dan pena. Menulis sebuah kerangka sementara untuk buku baru yang nanti akan ia reka.


Dua jam sudah ia bersemayam. Roman semula tenteram menjadi muram. Baru kali pertama Andin dibuat menunggu oleh seseorang berjam-jam. Hendak pulang namun hatinya bimbang. Namun bila terlalu lama memangku memegang, waktu berharga yang sebenarnya bisa ia gunakan untuk berkegiatan produktif pun akan terbuang.


“Apa aku batalkan saja ya?” tanya Andin kepada seseorang di seberang sana. Ujung astanya kala tadi menekan beberapa huruf untuk menerakan asma. Ia butuh sosok persona untuk membantunya melewati rasa dilema.


Ndak ditunggu sebentar saja? Mungkin saja dia memang ada keperluan yang harus diselesaikan saat ini juga.” Yang ditanyai mencoba memberikan sebuah solusi.


Namun sepertinya tak disetujui oleh dara satu ini. Ada beberapa faktor yang membuatnya tak bisa menahan diri lagi. “Setra, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh dua. Kalau berlama-lama, tak sampai hati aku membiarkan Biyung menutup kedai sendirian di sana.”


Yang bantu Biyung aku saja, bagaimana?”


“Kamu kan sedang lembur, jangan ngawur.”  


Nampaknya Setra sudah tak bisa berkata-kata bila wanitanya keras kepala. “Ya sudah, kalau memang kamu ingin pergi jangan lupa kirimkan pesan dahulu ke orang yang bersangkutan. Oh iya Ndin, sudah dahulu ya, nanti lanjut lagi kalau aku sudah sampai rumah.” 


“Iya, lanjutkan saja, maaf kalau aku mengganggu waktumu, Tra.” Selepas menutup obrolan, Andin memutuskan mengirimkan pesan untuk membuat ulang saja jadwal perjanjian, ia tak ingin Biyungnya sendirian.


Ia tak menyangka bahwa hanya dengan duduk saja akan membuatnya amat kelelahan. Beranjak ia untuk melangkah keluar menuju parkiran. Namun belum juga astanya memegang knop pintu ruangan,  terdapat sesosok atma yang sudah membukakan. Membeliak kebingungan, ia tercekat pada pangkal tenggorokan.


“Wira?” pekik Andin sembari membelalakkan netra. Tak menyangka bahwa Tuhan menggariskan takdir untuk kembali bersua dengan sukma yang bertali darah dengannya.


kaserat dening,

— Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ