πππ. πππππππππ
───────── ✾ ─────────
───────── ✾ ─────────
γΎ Legend Coffee, Yogyakarta — 20.31 WIB
Kelopak mengerjap bersanding senyap nan menyelinap. Bak terbekap, tiada cakap yang terungkap, menakhlikkan hening nan menggeriap. Keterkejutan hinggap membawa kebingungan yang tak hirap. Decak dari masing-masing lathi tertancap, sepasang insan bertali darah kembali bersihadap.
“Enggak terbersit dipikiran, kalau kenalan yang direkomendasikan pihak perusahaan ternyata seseorang dari kejaksaan.” Andin beraklamasi dalam sekejap. Lanskap menatap si ragil yang khusyuk menyantap hidangan yang masih membumbungkan uap. “Bagian mengenaskan adalah jaksa yang direferensikan merupakan sosok menyebalkan.”
Batalkan hasrat melahap sesuap kudap, Mahawira bersedekap. Menimpali sindiran dengan sigap. “Bahkan sekadar bertemu jaksa menyebalkan ini, Mbak Andin sampai berdandan.” Gemilap obsidian bagai alap-alap, terpaku pada nona yang dibalut gaun berwarna gelap. Curiga merayap. “Mbak, kamu enggak menaruh harapan untuk bertemu kepala kejaksaan yang sempat kamu puji tampan itu, ‘kan?”
Sang pujangga menyesap secawan teh untuk menepis pening menyelinap, sontak menancap cubitan pada pemuda yang asal ucap. “Penampilanku memang begini tahu!” Deriji kembali menari tuk menyulap larik berisi bait yang digarap. “Juga, jika aku tahu harus bekerja sama denganmu, lebih baik kutolak tawaran itu.”
“Mana mampu. Kamu bisa kehilangan kontrakmu,” kelakar Mahawira sambil meneguk segelas bir. Ia lanjut mencibir, “aku tahu, kamu pertahankan karirmu yang melejit itu.”
“Serupa denganmu,” bahak Andin berdesir. Mengerutkan hidungnya yang bangir, sang puan menopang dagu tatkala gelak terlampir, membombardir lagak congkak si ragil sampai kocar-kacir. “Bila kamu tolak perintah dari atasanmu, bisa diturunkan pangkatmu. Aku pun jua tahu, kau mempertahankan reputasimu.”
Derai menghilir, memanifestasikan senyum yang terukir pada masing-masing bibir. Getir melangsir karir yang nyaris terjungkir. Entah takdir atau saling hadir untuk meredusir jentaka yang singgah bergilir.
“Mahawira,” panggil dayita bergatra juru sastra. Membenam atensi pada jelma yang mengucurkan cairan pekat pada gelas yang terapit oleh jemarinya. Sebelum pahit merambah pada kerongkongan duplikat ciliknya, jari Andin lebih dulu menjarah guna tandaskan isinya. “Sungguh— rasanya kamu, aku, kita, sedang diajak bercanda oleh semesta.” Ia mengacaukan molek parasnya sembari mengusak rikma, syarat akan frustasi nan mendera.
Sang adhyaksa ternganga. Walakin warna terkuras dari muka, bahana tawa mengembara. Melepas gelang yang sedianya melingkar pada pergelangan tangan kanan tuk diulungkan pada kakaknya. “Mbak, aku enggan kehilangan suatu yang berharga untuk kali kedua. Kali ini saja, mari selamatkan apa yang kita punya.”
“Tentu, apa yang menjadi milik kita, jangan sampai terlepas begitu saja,” tutur Andin dengan luruh suara sehalus sutra. Kernyit tertera memeka gelang berwarna coklat tua yang kini berada pada telapak tangannya. “Tapi, kamu bilang kali kedua, memangnya, kamu pernah kehilangan apa?”
“Keluarga.”
Comments
Post a Comment