π•πˆπˆπˆ. 𝐂𝐀𝐋𝐀𝐓𝐇𝐔

 

─────────  ✾  ─────────

• Anandini Naeswari Pratibha 



• Mahawira Wisaka Kawidagda 


• Nawasena Basukarna  


─────────  ✾  ─────────

γƒΎCaturtunggal, Sleman, Yogyakarta  —  06.33 WIB

Andin membawa langkah untuk bersinggah pada pesanggrahan yang tak pernah ia jamah. Segaris menentang gravitasi hijrah tatkala bongkah harsa merekah. Sangkar bersejarah tidak banyak berubah. Pun letak petarangan yang dihuni ayam hutan milik Romo tak berpindah.


Jemari hendak menekan bel seketika terhenti sebab keingintahuan tergugah. Usai mengetik digit angka, dara dalam balutan gaun merah terperangah. Warsa kelahirannya yang dijadikan sandi tidak pernah diubah.


“Masih sama,” gumam Andin meregah.


Bertandang di ruang tengah, Andin membawa raga tuk mencari keberadaan tuan rumah. Sang pujangga melayah, lensa memapah pada bilik terpisah. Gundah membuncah, dentum memori lawas menujah lara tak berkesudah.


Enggan bercengkerama dengan duka yang berceranggah, laguh lagah Andin menilik melalui sebuah celah. Pintu terbelah tanpa derit nan tercurah, jangkah menjamah. Memupus jarak tersirah, pambarep hampiri si ragil yang berkelana dalam mimpi selagi gurat lelah pada wajah bersimbah.


Atensi terarah pada sejumlah portrait yang terbingkai oleh pigura megah. Andin memindai perangai gagah yang berorasi di antara lautan masa melimpah. Bergulir, memandangi figur adik dan Romo yang mengenakan simare berbeda warna sedang memantik seri nan meruah, desau dari bibir indah milik Andin melekah.


Sepersekian detik kemudian bak dihujam berantai anak panah, rinai merembah hingga isak puan pecah. Potretnya kala wisuda, acara bedah buku, serta ragam seminar di mana Andin hadir sebagai pembicara, terpampang menyebelah. Pun jajar buku yang direka oleh derijinya jua tersampir pada nakas setinggi sirah.


Memirsa dengkur halus senantiasa tumpah, solah sumarah Andin menanggalkan usapan lemah pada rikma Mahawira yang setengah basah.


Le, ayo sarapan.”




“Sudah aku bilang, aku kaum enggak bisa sarapan,” cetus Mahawira yang mendudukkan diri di atas kursi selagi asta khusyuk merapikan dasi.


“Sarapan tinggal ngemplok kok ora iso,” celetuk Andin dengan kekehan geli. Tak menggubris gerundelan hati Mahawira, ia luwes menakar nasi serta lauk yang dia persiapkan tadi pagi sebelum bertandang ke mari. “Mendiang Romo jarang ajak kamu sarapan barengan?”


“Mbak ini kebanyakan?!” Resonansi meninggi sang adhyaksa mengawali hari. Bermaksud mengurangi proporsi, lamun intimidasi Andin membuatnya berhenti. Gerutu mengisi, ia dapatkan porsi kuli. “Enggak ada ritual makan pagi di sini. Mbak Andin makan aja sendiri. Aku nek maem mengko langsung bablas neng mburi.


Andin melucuti dengan runcing ekspresi. Susah payah ia racik sop klaten yang digemari, kini bungsu tak tahu diri tolak mencicipi. “Makan.” Titah singkat namun langsung disanggupi. Sudut bibir naik satu senti, tertawai Mahawira yang kembali pada posisi tuk melahap habis kudapan yang tersaji.


“Kamu sama Romo, kenapa enggak pernah sarapan barengan?” tanya Andin sambil menaburi mangkuk adiknya dengan bawang goreng yang telah dibumbui.


“Dini hari baru selesai kerjaan, setiap pagi ngejar waktu biar enggak telat jadi budak kantoran. Mana sempat nikmati sarapan.” Penjabaran Mahawira dibarengi gelak menemani. Diceritakan tragedi yang dilaluinya bersama Romo saban hari. Sigap halangi surai Andin yang menjuntai agar tidak karam pada cambung yang setengah terisi. “Mbak sama Biyung selalu sarapan barengan ya?”


“Iya, kamu ingat ‘kan Biyung akan berseru garang kalau urusan kesehatan dilupakan?” sahut Andin selepas mengecap rasa rempah yang dinikmati. Lalu, menjangkau gelas dari sisi kiri. Kerongkongannya dibasahi oleh tirta nan mengaliri. Hendak mengandarkan eksplanasi, tetapi mulut terkatup lagi. “Kalau mau, aku bisa minta beliau buatkan—”


“Mbak, aku penuntut umum dari perkara ini dan sampai sore nanti ada proses autopsi yang harus aku dampingi,” sela Mahawira menyemat ketegasan dalam nada bicara. Menyodorkan daluang bertuang izin mengikuti penyidikan serta tanda identitas sementara untuk sang nona, ia berkata, "jika seseorang bertanya perihal jati dirimu sesungguhnya, katakan bahwa kamu adalah utusan dari salah satu media."


Andin memeka kartu nama yang menerangkan perannya untuk menjadi seorang juru warta. Tiada bantah mengudara, ia masukkan piranti ke dalam tasnya.


“Laksanakan.”




γƒΎ Cangkringan, Yogyakarta  —  16.49 WIB


Menjelang rawi terbenam, bentala Yogyakarta sebagai jantung peradaban menyatakan bahwa dinamika kehidupan masih berjalan. Sebagian telah menamatkan hari dan berpulang pada griya guna mengistirahatkan badan maupun pikiran yang kelelahan. Oposisi dengan para jelma yang masih dihadapkan oleh ragam pekerjaan. Pada bahu mereka tersemat tanggungjawab tuk menyelesaikan kewajiban. Tak ayal memantik harapan agar dilancarkan.


Andin bercokol di tepi jalan. Berjuak pada iluminasi layar yang melahirkan penerangan. Roman bertajuk keseriusan diperlihatkan, lihai mengetikkan hasil terjun ke lapangan untuk diolah menjadi deretan frasa siap dikumandangkan. Acap kali mencuri pandang guna pastikan sosok rayi masih awasi rentetan penyidikan. Respirasi mengalun tenang sebab, Mahawira masih membangun obrolan dengan tim forensik dari kepolisian sambil menilik kantong jenazah yang dijajarkan. Sejenak mempertanyakan jejaka menyebalkan tak mual kendati ganda busuk meletas penciuman.


“Belum pulang?”


Aksi pemantauan Andin digagalkan oleh suara sedalam lautan. Keterkejutan terealisasikan, juru sastra sontak menutup laptop yang disangga oleh pangkuan. Berniat bangkit diri, tetapi pria berperawakan menawan tanpa ragu lebih dahulu duduk bersebelahan.


“Belum. Saya wartawan,” urai Andin mewakafkan penjabaran. Membuktikan lisannya barusan dengan co-card yang diangkat oleh tangan kanan.


“Wartawan gadungan?” Bahakan sang tuan terhantar bak ejekan. Sebelum kepanikan Andin menjalar, ia tidak memberikan kesempatan bagi hawa yang menyita perhatian untuk melayangkan alasan. Mengulungkan tangan, dengan keberanian memperkenalkan. “Salam sua, asma saya Nawasena Basukarna.”


Menjabat salaman, jenama Andin haturkan. “Senang berjumpa dengan Anda. Nama saya Anandini Naeswari Pratibha.”


“Menulis fiksi tentang pembunuhan cukup mengabutkan pikiran?” tutur Nawasena melepas jas yang sedianya dikenakan. Tanpa penjelasan, disampirkannya pada dwicagak Andin yang bersentuhan dengan bayu menandu kedinginan. “Ingin menyangkal perintah atasan tapi jaminan pekerjaan.”


Andin menjatuhkan rahangnya. Kedok dibongkar di depan mata, kepalang curiga dengan teruna yang datang entah dari mana. Ia menyela, “Tuan siapa?”


“Enggak mendekat?” Nawasena letupkan enigma kedua. Gores tertatah pada muka. “Saya rasa kamu perlu ke sana untuk meneroka penyidikan secara saksama.” Ia menyarankan agar Andin mendekat pada lokasi penyidikan yang berjarak lima meter dari pijakan mereka.


“Saya bisa tidak makan seminggu apabila melihat organ manusia bercecer di mana-mana,” elak Andin, bahunya berguncang lantaran tertawa. Mengarik isi tas guna menjumput sebotol berisi tirta. “Lebih baik di sini saja. Akan memalukan jika saya muntah di depan tim penyidik lainnya.”


“Mau dengar cerita?” tawar Nawasena, memarginalkan posisi duduk bersila. Mengait kerikil yang berserak di depannya, ia memulai warita. “Dulu ada seorang jaksa muda yang menangis di tempat kejadian perkara. Seingat saya, itu kasus pertama yang ditangani olehnya.”


Andin tak buka suara. Meminjamkan telinga, ia hanyut pada cerita yang dibawakan oleh Nawasena. Tertopang dagu, membiarkan arek yang sedap dipandang mata menjadi satu-satunya subyek yang berbicara.


“Alih-alih memimpin jalannya penyidikan, dia mengeluarkan isi pencernaan di parkiran. Merapalkan kalimat berbunyi ketidaksanggupan sebab mayat yang ditemukan hancur berantakan,” ujar Nawasena memaparkan. Barisan gigi rapi tersembul ke permukaan, mengulas alur kejadian yang tidak memudar dari ingatan. “Mendapat desakan agar proses penguakan kronologi kejadian, dia andil dalam mengawasi autopsi meski awak gemetaran.”


“Agaknya jaksa muda tersebut menjadi beban bagi para rekan,” timpal Andin sambil terkekeh pelan.


“Bukan lagi beban, tapi jaksa amatiran itu dianggap memperlambat dinamika hukum yang berjalan hingga ragam teguran didapatkan dari atasan,” terang Nawasena berhambur gelakan. Menautkan tangan, senyuman tersulamkan. “Saya masih ingat, seminggu kemudian di persidangan, dia kalah dalam perdebatan melawan pengacara terdakwa yang lebih matang pengalaman.”


“Apakah sebagai atasan, Anda juga memberikan tekanan?” Andin merapatkan jas berwarna kecoklatan yang Nawasena pinjamkan. Sang pengarang tak menaruh minat pada gubahan.


“Sebagai mentor, saya ada di garda terdepan yang melontarkan kritikan. Terdengar keterlaluan, tapi kala itu saya katakan bahwa dia tidak layak menjadi bagian dari kejaksaan. Saya meleja dia habis-habisan.” Tiada kebohongan pada pengakuan Nawasena. Jua, sorot cua yang membumi pada netra. Menancapkan hidung di jumantara, memapang surih di rupa. “Barangkali dia menanam dendam, usai hari itu, ia gencar melawan saya dengan berbagai pembangkangan.”


Bernaung dekap indurasmi, dialog berasonansi dari dua insan yang berimplikasi pun teraklamasi. Manungsa yang menepi dari margi, terdistraksi oleh sunyi nan menyelingi. Interaksi yang terakumulasi bak anomali. Derik antropokori berekskrusi.


Dengusan keras Andin mengamputasi sepi. Ia berdiplomasi, “Jika jaksa tersebut salah seorang kenalan saya, maka Anda akan saya maki.”


Derai penuh presisi milik Nawasena merintangi. Emosi Andin serupa guyonan menggelitiki, ditanggapi dengan kikik tidak ditutupi. “Kamu boleh mencaci saya hari ini.” Telunjuk mencema pada obyek yang bercekak pinggang sembari hujani afirmasi kepada seorang polisi. “Anak itu di sini.”


Berlainan dengan Nawasena yang mengilhamkan tawa merdu, Andin justru termangu. Sesaat membisu, tiada tanggapan atas cerita jenaka karena ilatnya kelu. Menangkap gelagat lugu yang berpadu oleh riuh biru, senyum semu Nawasena menyerbu. Tanpa kaku, dibelokkan topik pembicaraan itu agar sendu tak bertalu.


“Ndin, saya tidak bisa memberikan jaminan karya yang kamu ciptakan tidak menuai kecaman dari orang-orang pemerintahan. Tahu ‘kan tema yang kamu bawakan kelak mengusik jabatan yang mereka pertahankan?” seloroh Nawasena, pita bahana menjamu merdu. Mulut yang memulas kurva semanis madu, memicu rona malu dari dayita yang tengah tersipu. Menyeluk seisi saku, laki-laki berwibawa itu mengikrarkan sesuatu. “Tetapi, saya bisa melindungi reputasimu apabila ada laporan bahwa tindakanmu harus dihukumkan. Setidaknya, akan saya upayakan tidak ada tuduhan yang merugikan.”


“Mencari peluang, Tuan?”


Gema lain turut beradu. Andin dan Nawasena yang berkusu pada mandala, menggulir pandang pada Mahawira yang membelu iras sengau. Tak menyungkup raut menceku, empu setakar lesung mempersaksikan mimik nan menceku. Mendeklarasi ketidaksukaan, sang antiwirawan yang mempertuan lisan jaharu menohok dengan ucapan menggebu.


“Kerap kali saya mendapat tekanan dari berbagai pihak bahkan pangkat akan dilengserkan jika komando tidak dilaksanakan. Disebut pembangkang karena menentang regulasi yang ditetapkan. Tak jarang keselamatan saya menjadi taruhan. Tetapi, bila kausa yang saya leraikan memperoleh sanjungan, kejaksaan yang tidak memberikan dukungan, digadang miliki kinerja cekatan,” cakap Mahawira, sudut mulut meliku seringai sepahit empedu. Sungut berjibaku. Melorongkan ajakan berseteru kepada Nawasena yang mengendikkan bahu seraya terkikik seolah ia sedang melucu. “Pun tidak ada agunan yang Tuan berikan selaku Kepala Kejaksaan.” Sindiran berkobar dilesatkan bak peluru. Ia menyeru tak setuju. “Ah, sial, disekian banyak pilihan, dia malah merayu perempuan di pinggir jalan.”


Andin melonjak. Pupil terbelalak, lekas ia menjaga jarak. Keseganan berparak. “Maaf, Pak, saya tidak tahu Anda adalah pimpinan Kejati. Terima kasih atas uluran tangan yang Anda beri.”


Mahawira membeliak. Bersedekap dengan gelagat congkak, ia berdecak, “Mbak, yang bantu kamu itu aku!”


Setelah berdiri tegak, telapak Andin mendarat pada punggung adiknya dengan telak. “Sik sopan sama atasanmu.” Berjingkrak tuk kusuk-kasak di cuping Mahawira sengaja memasung suak galak. 


Nawasena beranjak. Menyimak tindak-tanduk adik-kakak, binarnya bersemarak. Secorak eksplikasi diternak. “Mahawira, saya hanya menawarkan bantuan. Tidak ada lain maksud dan tujuan.”


Syak bergejolak di benak. Mahawira mengibaskan tangan tuk menampik dalil dan menggertak. “Halah, bualan.” Pipit merangkak, capak tercetak. Disenggolnya lengan Andin, ia menyibak fakta sang kakak. “Tuan jangan ambil kesempatan. Mentang-mentang mbak saya pernah bilang njenengan tam—”


Andin terlonjak. Gesit membekap lathi Mahawira yang asal jeplak. Ujung sepatu adiknya, dia injak. “Sepertinya penyidikan hari ini telah radu. Saya izin untuk bawa anak ini pulang, sampai jumpa lain waktu.” Digiringnya si ragil yang memberontak.


Lubuk menghangat. Amati nisa yang memikat tengah bergulat dengan wriya yang berbelingsat guna meloloskan bidak dari cekalan kuat, lengkung Nawasena bertakat mencuat. Karsa nan berkelebat, menyulut harap berpahat. Bertirakat, lain kali bersua di lain tempat. Sementara di sebelah barat, atma mengepalkan tangan erat sebab lara berjerumat.


kaserat dening,

— Werkudara

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ