ππ. ππππππππ
───────── ✾ ─────────
───────── ✾ ─────────
γΎ Kepolisian Daerah, Yogyakarta — 20.21 WIB
Hingar-bingar desing kendaraan menyeruak indera pendengaran. Lamun, bilik sepi memutus diri dari hiruk-pikuk kehidupan. Cawis redup lampu penerangan, berdampingan dua kedera yang berhadapan tersekat sebuah meja sebagai batasan. Satuan keamanan yang berdikari dengan arogan, kini memunculkan sejumput kejerian. Rikuh bersanding kegentaran sebab kecemasan menjalar tak tertahan. Jajaran laskar berseragam tak melahirkan pembelaan. Tertunduk segan pada sang adhyaksa yang bersemayam pada kursi selagi dwicagak tersilangkan.
“Kau ini aparat, bukan keparat.”
Usai beringsar dari persemayaman, runcing lisan Mahawira memekak kesunyian. Jelaga kelam menoreh kekecewaan. Serangkap penyidikan berjalan, menanggalkan penyimpangan. Kendati setakar lesung merangkak ke permukaan, sang antiwirawan mengandarkan kecaman. “Saya enggan bekerja sama dengan penyidik yang menyelewengkan kewenangan.”
Menyelip kekhawatiran, gerombolan prajurit yang mengemban kewajiban tertunduk oleh penyesalan. Tiada alasan berdalih pembenaran lantaran pita suara terasa serak tak tertahan. Dominasi angkara yang dibalut keramahan oleh sang adhyaksa mengukuhkan bulu kuduk nan meremang perlahan.
“Melanggar pasal 52 dan 117 KUHAP yang berarti lencana kalian bisa dilepas hari ini.” Desau Mahawira berkelana melucuti harga diri para pasukan merapatkan telinga dan tundukkan kepala. Intimidasi melalui rona yang merangkak pada durja, tak ayal kurva senantiasa bersenggama, lantas berkata, “Kalian juga melanggar Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998, yang mengatur hak bebas dari penyiksaan dan perlakuan penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat manusia.”
Berderap selangkah dengan sudut sepasang pipit nan merekah, Mahawira menyergah, "Seorang penyidik yang melakukan penyiksaan, bisa mendapat peringatan berupa pemecatan." Terwalak amarah yang tak dapat dibantah pada raut berpaut ramah. Penuturan pongah mencacah kekalutan nan berceranggah. “Selepas penyidikan, kita bicarakan perihal pelepasan jabatan kalian.”
“Wira.”
Sapaan tertuju pada empu yang lecutkan angkara bertalu. Berselang waktu, Samba menyembulkan diri dari balik pintu. Tuan beriris abu tiba bertamu. Hampiri ikhwan yang bersitumpu pada meja kayu, tatapannya terpacu pada aparat yang terakuk lesu. Meski ragu karena pualam hitam Mahawira menjamu, Samba mengurai enigma menggebu pada wirya yang kenakan kemeja berwarna biru, “Kenapa semua orang membisu?”
Menggulung lengan sebatas siku, alis Mahawira menyentak berliku. Ayat tanya meruak ambigu. Ia mengendikkan bahu, tak memusakakan jawaban atas rasa ingin tahu. “Ada apa?” Mengalihkan obrolan bak angin lalu, sang adhyaksa menandu lengkung semu. “Butuh bantuan tuk selesaikan kasusmu?”
“Bukan itu,” tampik Samba seraya berkusu di bangku. Merogoh kocek celana, secarik warkat diulungkan tanpa babibu. “Mandat untukmu.”
Mahawira menilik larik dengan teliti. Surat resmi ditujukan padanya hari ini. Di pojok kiri, tertoreh tapak asta dari Kepala Kejaksaan Tinggi mendeklarasi bahwa ia harus patuhi perintah yang diberi.
“Ada perkara yang aku tangani. Kau mengerti, atensiku enggak bisa dibagi,” sanggah Mahawira mengembalikan surat pada Samba menanggapi dengan kekeh geli. Tangan dikantongi, jejaka yang mempertuan dekik, memberi eksplanasi. “Pun ada proses autopsi yang harus aku dampingi malam nanti. Esok hari, aku juga ada persidangan di Pengadilan Tinggi. Suruh jaksa pratama ‘tuk tangani ihwal tak penting ini.”
“Bukannya kau mencari penulis?” tukas Samba menghentikan celotehan Mahawira. Beranjak dari posisi semula, dirematnya pundak sang kawan bicara. “Kau membutuhkan seorang penulis untuk publikasikan kausa yang tak pernah dirilis.”
Jeda beranjangsana. Dua teruna yang sudah bertolan sejak lama beradu pandang dengan masing-masing netra. Terjumpa riak pada jelaga Mahawira tatkala gemercik pikiran melanda. Memafhumi purbasangka nan tertera, Samba melipur syak wasangka melalui rangkai kata.
“Pimpinan kejati yang kau maki, mengapresiasi keberanian yang kau miliki. Ia memberikan kesempatan bagimu untuk leraikan kausa tanpa menentang regulasi,” tutur Samba, menarik kedua sudut bibirnya. Mengurai dogma. “Wir, peluang tidak datang dua kali.”
Mahawira angkat kaki guna undur diri. Setapak bergema kala menyusuri baluwarti yang menjulang tinggi. Eksistensi menuai abstraksi, kalang kabut ia berlari. Pergi meninggalkan sangkar yang digunakan untuk interogasi.
Bersama bayu menerpa, gandaran menembus jalan raya. Roda berpacu membelah marga membawa sang pengendara untuk bertandang pada kedai di sudut kota. Derit berasal dari pintu kaca, lokawigna mendaratkan raga ditariknya garda dengan tergesa. Bersamaan pula dari dalam sana seorang dara hendak membawa siuh usai batalkan janjinya. Tercenung seketika kala tanpa sengaja, manik sewarna kembali bersua.
“Mbak?!”
Comments
Post a Comment