πˆπ—. 𝐇𝐀𝐑𝐒𝐀 ππˆπ‘πŒπ€π‹π€

 ─────────  ✾  ─────────

• Anandini Naeswari Pratibha  



• Adiratna Pratibha  



• Mahawira Wisaka Kawidagda  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎ Sinduadi, Sleman, Yogyakarta  —  18.02 WIB

Remang lampu temaram pekarangan menerangi suramnya jumantara. Suara jangkrik laksana tengah mengadakan pementasan harmoni untuk menghalau senyapnya suasana. Nampak seorang hawa tengah beberapa kali mengusap kasar rupa.

Sepekan sudah ia berkutat dengan benda elektronik yang berada di depannya. Hanya karena aksara, mustaka bak diporak-poranda, batin seperti disiksa, raga bagai alami cedera. Walau demikian, Andin tetap merampungkan segalanya agar lekas bisa dibukukan. Tak peduli dengan tantangan dan resiko yang telah dihadapkan. 

Disandarkannya punggung yang renta, dihembuskannya napas agar lepas dari sesaknya sukma, ia pejamkan sebentar netra sebelum kembali mengerjakan karyanya. Namun belum jua ia puas menikmati waktu jeda, seseorang tiba-tiba mengagetkan dengan menepuk bahunya. Membuat asta bergerak cepat menutup laptop yang ada di depannya.

Rupanya seseorang itu ialah sang ibunda. “Belikan Biyung garam dan gula sebentar bisa? Warung depan rumah enggak buka, coba kamu ke perempatan ya.” Yang dititah hanya menganggukkan kepala dan beranjak menuju tempat yang dimaksud dengan tergesa-gesa. 

“Kenapa akhir-akhir ini kaget kalau aku datangi saat dia menulis ya? Bukannya sudah biasa kalau aku lihat apa yang dia reka.” Ratna bermonolog sembari menduduki kursi yang digunakan Andin untuk mengerjakan karya yang direka. Asta bergerak membuka laptop yang berada di meja untuk mengobati rasa penasaran yang menghantuinya. Diamatinya karya yang Andin cipta dengan netra secara saksama. “Sebentar, Andin itu menulis tentang buku berisi wejangan, ‘kan? Kok segala bahas penyelidikan? Ah mungkin dituangkan dalam cerita- Kenapa ada keadilan, pemerintahan, kesengsaraan?”

Belum ia rampungkan kalimatnya, terdapat suara notifikasi ponsel mengagetkannya. Ditiliknya layar gawai yang menyala, terdapat pesan dari ‘Orang Gila Negara’ yang tertera.

Besok jadi, ‘kan? Kalau besok pintunya enggak aku bukakan, masuk saja terus jangan lupa aku dibangunkan.

Eh iya, enaknya besok kita ke Gembira Loka, atau Sindu Kusuma Edupark dulu, ya?

Belum juga ia ingin membaca untuk kali kedua untuk memastikan apakah orang tersebut ialah Setra, suara lonceng mengurungkan niatnya. Ditariknya raga menjauhi area yang digunakan putrinya untuk berkarya. 

Monggo Ndoro Putri, pesanannya sudah selamat sampai tujuan.” Penuturan Andin ditanggapi sebuah tawa oleh Ratna. Astanya bergerak mengambil kresek yang berisi garam dan gula. Belum juga Ratna membalikkan badan, pergerakannya dihentikan oleh sebuah pernyataan. “Oh iya Biyung, besok aku diperintah untuk ndak libur karena ada tambahan pekerjaan di kantornya Pak Langga. Jadi menurutku besok kedai ditutup saja. Atau kalau mau buka, nanti minta tolong Setra saja, aku ndak bisa bantu soalnya.” Pernyataan yang Andin lontarkan hanya ditanggapi dengan anggukan.




γƒΎ Sindu Kusuma Edupark, Yogyakarta  —  08.28 WIB

Suara gemercik air menjadi pemecah keheningan pagi. Terlihat asta dari seorang dara sedang membersihkan peralatan dapur yang ia gunakan untuk memasak tadi. Setelah selesai, dilangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan berisi atma yang tengah terlelap dengan damai.

Diusapnya sebentar surai hitam sang adik laki-laki. Lalu Andin tepuk-tepuk pelan punggung bidang itu untuk membangunkannya dari alam mimpi. “Tangi, ayo mandi terus sarapan dulu sebelum pergi.”

“Mbak Andin sudah di sini?” tanya Mahawira tanpa membuka mata, sudah paham akan suara dari sang dara. “Mbak, tapi apa ini enggak terlalu pagi? Aku masih ingin menikmati mimpi.”

Andin pun berdiri, ia keluarkan jurus andalannya agar sang ragil tidak lagi mengajaknya bernegosiasi. “Pilih tangi atau kita enggak jadi pergi?” Yang dititah kemudian bangun dan bergegas ke kamar mandi. Andin yang melihat tingkahnya hanya terkekeh geli.

Sembari menunggu adiknya selesai membersihkan diri, Andin pun mencoba mencari tempat makan yang tidak jauh dari tempat wisata yang akan dikunjungi. Agar bisa menghemat biaya, lantaran makanan di dalam tempat wisata biasanya jauh lebih mahal harganya.

“Mbak masak ya tadi?” tanya Mahawira sembari mendudukkan diri. Belum juga dijawab oleh Andin, astanya sudah terlebih dahulu meraih sendok dan mengarahkan ke makanan untuk dicicipi. “Iya, makanya Mbak pagi-pagi banget ke rumahmu. Biar nanti berangkatnya enggak terlalu terburu-buru.”

Setelah percakapan singkat, keduanya bersiap-siap untuk berangkat. Mahawira terlihat memanasi mobil di depan rumah, sementara Andin tengah membuang sisa limbah yang belum sempat dibersihkan ke tempat sampah. Selepas Andin dan Mahawira selesai dengan urusannya, sepasang saudara ini bergegas untuk menuju tempat tujuan mereka berlibur agar tidak terjebak oleh puluhan pengendara.

Benar adanya, bahwa bila berangkat lebih awal tak akan ada banyak pengemudi roda empat maupun dua yang berjumpa dengan mereka. Maka telah tiba kedua atma dengan roman berseri ini di sebuah tempat rekreasi berasma Gembira Loka. Mereka tengah membaca sebuah peta, guna mengetahui arena dengan benar agar tak tersesat nantinya.

“Sudah lama aku enggak ke sini, makin banyak saja yang direnovasi.” Andin melihat situasi tempat wisata yang ia pijaki. Perkataannya ditanggapi dengan anggukan oleh sang adik laki-laki. “Iya, Mbak. Tempat rekreasinya juga sudah bervariasi.”

“Kita sekarang ada di pintu sebelah timur. Di dekat sini ada beberapa rekreasi kalau kata peta, mau coba mampir atau langsung jalan liat para satwa?”

“Paling dekat ATV, ya? Mbak mau coba?” Andin menggelengkan pelan mustaka. Lalu sesaat kemudian ia berucap bahwa tak apa bila Mahawira hendak mencobanya. Bukannya menurut, sang jejaka malah berjalan mendahuluinya sembari berkata, “ya sudah, jalan saja kalau begitu. Aku enggak mau bikin Mbak menunggu.”

Walaupun penuturan Mahawira mungkin saja tak berarti bagi yang lainnya, tapi untuk Andin kata-kata yang dilontarkan oleh sang ragil membuatnya hampir menitikkan rinai dari netra. Namun sebisa mungkin ia tahan, karena ia tak mau suasana bahagia malah terganti dipenuhi oleh kenangan. Jadi, yang bisa ia lakukan hanya merangkul badan tegap nan semampai itu sembari mencubit pipinya dengan gemas. “Adikku sudah dewasa rupanya, hahahaha.”

Berjalanlah mereka menuju penangkaran para satwa. Sembari menghindari rasa canggung keduanya mencoba bergantian untuk mengabadikan momen berwisata melalui lensa kamera. Setelah memotret perempuan di depannya, Wira kemudian berkata, “Mbak Andin tahu enggak kenapa aku suka ke kebun binatang?” Andin hanya menunjukkan roman yang terlihat penasaran. Sesaat kemudian ia menyirit heran, lantaran adiknya berjalan dua langkah lebih dahulu di depan. “Karena aku mau lihat kembaranmu, Mbak. Lihat deh samping Mbak ada apa.”

“Memang ada apa-” Andin menoleh ke arah yang dimaksud Wira, terlihat satu ekor simpanse sedang bergelantungan dan menatap ke arahnya. Lalu ia melihat kembali ke arah Wira yang sudah berlari sekuat tenaga dan kemudian berseru, “kurang ajar. Sini kamu jaksa raharja!” Gelak tawa dari sepasang saudara mendominasi Gembira Loka, dunia seperti milik berdua. Tak heran juga bila membuat beberapa pasang mata kerap menatap mereka.



 

Lelah raga karena menghabiskan waktu dengan cengkerama dan sering mengeluarkan tawa, keduanya memutuskan untuk terlebih dahulu melepas dahaga dengan membeli jus mangga sebelum kembali melangkah menuju pintu keluar Gembira Loka dan mencari makanan untuk dicerna. 

Ditutupnya pintu mobil seusai membayar parkir, Mahawira lalu bergegas menyetir. Mereka berjalan menuju warung makan yang Andin rekomendasikan. Lokasinya tak begitu jauh, hanya butuh sekitar dua menit untuk sampai tujuan. 

Sesampainya di area parkir tempat makan, sepasang saudara ini keluar dari kendaraan dan masuk mencari tempat duduk dan memesan hidangan. “Kamu mau pesan apa? Mbak pesan ayam geprek, terus sama sayur sop, nanti dimakan berdua, ya?” Dilihatnya selembar menu yang berada di genggaman, ia mengambil selembar kertas dan pena untuk menulis pesanan.

“Mbak kan paham kalau sayur bening aku enggak begitu suka." Sang ragil tak terima, ia tak begitu suka dengan Andin yang selalu menentukan secara sepihak makanan yang hendak dimakan olehnya.

Jangan sebut ia Andin bila mudah dibantah begitu saja. “Sayur itu wajib dikonsumsi. Buat kebutuhan gizi. Lagian sayur yang tertera cuma ada sop di sini.”

Wis Mbak, karepmu. Aku kebelet, mau ke toilet dulu. Yang penting aku ayam kremes sama es teh satu.” Tak mau lagi menghabiskan tenaga, Mahawira menyerah dengan sang kakak yang keras kepala. 

Yang diberi pernyataan hanya tersenyum dan membawa pesanan ke meja depan. Saat membalikkan badan, ia hampir saja bertabrakan. Kala kakinya akan melangkah, orang tersebut memanggil asmanya dengan sumringah. “Andin?” Belum juga yang ditanyai menjawab pertanyaan, ia dibungkam dengan tangan Sena yang secara tiba-tiba merangkul bahunya untuk minggir ke depan, lantaran ada beberapa pelayan lewat sedang mengantarkan banyak makanan.

Tanpa mereka sadari, rupanya terdapat sepasang mata yang sedari tadi mengawasi.


kaserat dening,

— Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ