π. π ππππ πππππ
───────── ✾ ─────────
• Anandini Naeswari Pratibha •
• Adiratna Pratibha •
• Kasetra Satyawangsena •
───────── ✾ ─────────
γΎ Sinduadi, Sleman, Yogyakarta — 18.02 WIB
Di bawah naung arcapada, kala mega berkelana, sang juru lensa mengeja salam kepada senja. Pada sudut kota Yogyakarta, ia khusyuk membidik panorama dengan kamera yang iringi langkah ke mana saja. Semilir bayu menerpa rikma memagut mesra baskara yang pamit undur diri pada ufuk barat sana.
Bak fragmen seutas sinema, wirya yang luwes mengganti roll film pada tustel tua mengestimasi berapa lama ia berjejak seraya mencumbu eloknya payoda. Tanpa menyurutkan kekal garis terburai di muka, netranya merekam elok bumantara yang menjadi saksi atas setiap detak dan detik yang bermetamorfosa menjadi luka serta lara. Hanyut dalam riuh suasana, terlonjak kecil ia ketika alunan bahana menyita atensinya.
“Setra?”
Jenama dielukan oleh desau sehalus debur bena. Empu asma rentangkan asta, sambut sang dara dalam hangat dekap raga. Menyesap raksi yang candu baginya, ia melipur rindu yang semula melanda. “Hari ini ada cerita apa, Ndin?”
Tak lepaskan rengkuhan, Andin merapatkan pelukan. Membenamkan awak sebab kenyamanan dari sang tuan telah lama didambakan, ia mengurai dinamika kehidupan yang baru setengah berjalan, “Sama seperti biasa, aku nulis seharian. Pekerjaanmu lancar tanpa kendala kan?”
“Aku penasaran, tulisan apa yang kamu ciptakan sampai aku diabaikan,” celetuk Setra menyematkan decakan, sahut pertanyaan dari sang kekasih tak dihiraukan. Meluruhkan rangkulan, lantas melipat tangan. Enggan mengulur percakapan, ia tuntut penjelasan. “Ndin, apa yang kamu sembunyikan?”
Menghujamkan pandangan pada ruang hati dilabuhkan, rona merangkak pada roman Andin kemudian. Membalut getar dalam ketenangan, tanggapan berisi penjabaran dihaturkan, “Enggak ada, Tra. Bukannya aku selalu kirim kabar ke kamu ya?”
“Barang sekali pun kita enggak pernah kucing-kucingan perihal pekerjaan. Tapi sekarang, seolah kamu memahat batasan.” Setra melesatkan lisan nan termaktub ketersesakan. Secarik angkara ditahan tuk menjaga resonansi di hadapan gadis pujaan. Atma yang kenakan kemeja putih kecoklatan memaksa mengulas senyuman. Bermodalkan kesabaran, gundah sedianya berjempalitan pun dilontarkan. “Andin, aku butuh keterbukaan. Berikan aku jawaban, mengertilah, aku kepalang lelah dirundung kemelut pikiran.”
Gelita binar Setra menempa sang pujangga. Bibir berwarna merah muda merapat tak mengikhtiarkan gema. Laksana hampa menyiksa, tersadar Tuan dan Puan bila bidak kerap bersua, namun yojana mengudara. Kendati sungkawa mengoyak sukma, Andin menggenggam telapak sekokoh garuda selagi menanya, “Apa yang kamu risaukan, Tra?”
“Teramat banyak hingga sukar dikiaskan oleh kata,” ujar Setra sambil bersitumpu pada meja. Mewalakkan analog yang sedianya dibawa, agar jemari leluasa menggapai deriji si juwita.
Andin menjadi saksi mata atas duka yang ditertawakan pura-pura. Eksplanasi serupa wasangka jiwa dilayangkan pada Setra. “Bukankah aku sudah cerita bahwa aku diminta ganti tema? Ini kali pertama aku menulis cerita fana. Tra, tolong mafhumi, aku bekerja bukan hanya untuk penerbit, tetapi juga pembaca. Aku perlu konsentrasi ekstra agar buku yang aku reka usai segera.”
“Apakah menghabiskan sangkala bersama lain pria merupakan bagian dari pekerjaan juga?”
Belum sempat Andin memaparkan dalihnya, vokal yang tak asing di telinga andil dalam sawala mereka. Terperanjat si kuli tinta. Ia terperangah setakat jatuh rahangnya lantaran Ratna yang berpijak di depan pintu sebelah utara, menghunus sorot nanar berbancuh cua. Wanita dengan uban menumbuhi surai pun mengikis tengka. Melabuhkan histeria pada putri semata wayang yang menghimpunkan keberanian meski dada bergemuruh luar biasa. Pun Setra mencekuh saku celana. Tanpa banyak bicara, ia menerjukan potret si dayita yang tengah bercengkerama dengan seorang teruna. Membungkam telak walau nyeri menjalar pada sekujur raga.
“Setra—”
“Siapa dia, Nduk?” tukas Ratna menodong dengan picingan yang syarat akan murka. Mengendikkan dagu pada figur Andin yang terleka bercengkerama tampak gembira berceloteh ria dengan lelaki yang terlihat matang perangainya. “Buku apa yang kamu tulis sampai menyinggung pemerintahan? Mengulik penindasan, bahkan terjun dalam penyelidikan?”
“Biyung dengarkan!” pekik Andin tanpa sadar meninggikan intonasi suara. Berang mengembara tatkala Ratna dan Setra menempatkan ia bagai terdakwa. Tak gentar biarpun intimidasi melucuti eksistensinya, si buruh mangsi mengungkai kausa. “Aku awam dengan topik yang melibatkan keadilan, sementara penerbit memintaku mengganti tema selagi meningkat penjualan bulanan.”
Pias mengaburkan pengelihatan, Andin mendapati pita nada bergetar perlahan. Menyengkang isakan karena lirikan Ratna tertumbuk menyakitkan. “Aku enggak bisa berjalan sendirian dan membutuhkan uluran dari mereka yang paham akan pengungkitan seluk-beluk tirani penuh kelaliman.” Peluh bercucuran, jejak ingatan semasa belia bergentayangan. Kilatan bermandikan kemuslikan berbenturan dengan Setra yang diam membena perdebatan. “Dia, Nawasena, Kepala Kejaksaan Tinggi yang berkenan memberi bantuan selama proses kepenulisan.”
“Apa enggak bisa kamu menulis sesuai khayalan?” tandas Ratna menentang terang-terangan. Menikamkan rekognisi nan memerihkan, pelupuk dihuni genangan. “Nduk, jangan kamu tiru watak Wendra yang gila negara, Biyung enggak suka.”
“Aku bukan penulis amatiran tanpa dasar sebagai pembuktian. Pun jika menulis merupakan pelarian dari kenyataan yang menyakitkan, aku enggan memanifestasikan warita berisi bualan.” Sanggahan Andin menyembilu asumsi Ratna yang berseberangan. Ia mengandarkan penegasan.
“Serambi aksara yang aku cipta adalah nyata yang bersandiwara.”
“Benar, sebab kamu lah yang bersandiwara.”
Tawa mencela Setra terserak nyeri di telinga. Entah bualan belaka atau fakta yang memang nyata, walakin disangsikan kredibilitasnya. Sebuah konklusi bak dogma selepas asas praduga, terdeklarasi oleh frasa. “Ndin, aku simpulkan tiada kedustaan dalam lisanmu barusan.” Memiringkan kepala, runcing iris menelisik hipokrisi dari jelaga sang nona. “Tetapi, ada berapa jaksa yang menghibahkan uluran tangan?”
“Apa maksudmu berujar demikian?” sergah Andin, alis terpelentik sejala. Jengah bertandang di ruam durja. Loya pada polemik yang tak temukan titik terang jua.
Fatwa eksentrik mendongkrak sesal bergulana. Menempatkan hasil lain bidik kanta, ayat tanya Setra lolos dari auta. “Alibi apa yang hendak kamu gunakan untuk menjelaskan adhyaksa arogan yang mengawalmu bak seorang ajudan?”
Pitam merayap jelaga seteduh belantara setelah memirsa persona Andin dan Mahawira yang menandaskan waktu bersama. Semenjak hari pertama mengambah lokasi perkara, menghidu guam mengusik jiwa, serta vakansi di Gembira Loka, terhambur tiada cela. Cempala tatapan pewarita menggempur kepercayaan diri Setra.
“Setra, kamu melanggar batasan.” Rancap urat Andin membuntang kentara. Desis geram melanglang buana. Laksana bharatayudha, ia tidak menerima gencatan senjata, lalu mencerca, “Menjalin hubungan denganku bukan berarti kamu diperkenankan lancang campur tangan.”
Larik Andin bak selaur peluru. Membajau Setra hingga membisu. Membelu ngilu, hawa yang merasa dikhianati itu menandu biru. Invitasi tuk berseteru melahirkan nafsi bertalu. Paras ayu biasa suguhkan lengkung berpadu, kini jemu berwiru. Erat kepalan candik sampai memutih buku-buku. Sengau merujah kalbu. “Sumpah aku bila kau sentuh adikku, aku yang akan menghabisimu.”
“Ndin, Biyung kecewa denganmu,” lirih Ratna memantik kurva sepahit empedu. Jerungkau sendu menghalau bilur nan menderu. Linang mengguyur baju, sedu menggeru. “Membesarkanmu seorang diri agar tak warisi perilaku Romo dan adikmu, justru kau atur janji temu?”
Kernyit Andin berliku. Tergegau oleh tepisan Ratna, ia menyibak rambut nan menjerungkau sekali lalu mendesah lesu. “Biyung, Mahawira adalah orang yang direkomendasikan oleh atasanku. Salahkah jika aku—”
“Tolong, Nduk, Biyung sudah enggak sanggup bila harus hadapi teror dan kecam seperti dulu,” hardik Ratna berseru. Belenggu tatu tersirat pada obsidian kelabu. “Perlu kamu tahu, idealisme dan keberanian Wendra layaknya benalu. Dia bahkan enggak mampu melindungi Biyung dan kamu saat itu.”
“Segala yang Biyung takutkan itu semu. Biyung terlalu antipati pada negara tanpa mau tahu, apa yang dilakukan Romo masa itu,” berondong Andin parau. Gurat dahi berjibaku. Bertempu pada kursi kayu, Ia cuak lantaran persepsi sang ibu sekeras batu. “Biyung sibuk menilai perilaku Romo seakan tabu.”
Beranjak dari bangku, Andin mengadu runjung pandang dengan si induk yang membeku. Pitawat dirapal tanpa ragu. “Biyung, jangan melarangku.” Tutur tegas tidak menadah gugatan tak setuju.
“Biyung berikan opsi padamu,” seloroh Ratna melaru senyum semu. Memangku angan agar putrinya iyakan tawaran itu, dengan napas memburu, ia berujar menggebu. “Hentikan tulisanmu itu atau tak akan pernah kamu temui lagi Biyung seumur hidupmu.”
Meramu pilu, manik layu Andin berkusu pada Ratna yang termangu. Relung kacau balau dikarenakan getir menyerbu. “Biyung, jangan sesali keputusanku.”
Comments
Post a Comment