ππ. ππππππ πππππ
───────── ✾ ─────────
γΎ Kejaksaan Tinggi, Yogyakarta — 21.01 WIB
Sangkala berdenting pelan, membiarkan jarum pendek menjamah angka sembilan. Proses penyelidikan hingga penyidikan telah dilakukan, tiba masa sidang perkara dilaksanakan. Leretan magistrat tajamkan pendengaran kendati letih terpenjara pada roman. Kuyu yang bergalur di permukaan mendeklarasikan pelik menghardik pikiran. Lejar telah menggerayah sekujur badan, namun muktamar senantiasa berjalan. Kausa tak kunjung temukan penyelesaian. Daksa kelelahan dipaksa menyaksikan keruncingan yang berpendar di penjuru ruang persidangan.
Sawala sengit antara adhyaksa idealis dan advokat kritis menakhlikkan ketegangan. Mencuraikan barang bukti yang ditemukan, argumentasi lantang saling menjatuhkan. Menjebak melalui lisan guna mengorek kebenaran. Enggan mengalah, keduanya mencari celah, untuk menunjukkan kesalahan. Tidak ada yang bercakap, semua bungkam, khusyuk mendengarkan.
"Pada 27 November 2019, pukul sebelas malam, terdakwa melakukan pembunuhan di rumah korban." Menguraikan kronologi kejadian, gelegar Mahawira merampas perhatian. Sang adhyaksa berpijak arogan di hadapan jajaran wakil Tuhan yang menyemat pena di tangan kanan. Ia memberikan isyarat berupa anggukan agar jejak kriminalitas ditampilkan. "Korban dibunuh oleh terdakwa lantaran mengetahui letak dimana potongan tubuh lain disembunyikan."
Seulas kurva tak dipadamkan, Mahawira melubangi dengan jelaga kelam seteduh hutan. Seraya memaparkan, ia tarik sebuah kerambit berlumur cairan berwarna berma pekat yang telah rapi dalam kemasan. “Telah dikonfirmasi oleh ahli forensik yang tergabung dalam tim penyidik, bahwa sidik jari terdakwa tertanggalkan.”
Enggan merasa terpojokkan, pengacara selaku pembela pun melantingkan sanggahan. “Yang Mulia, terdakwa tidak pernah memiliki cundrik seperti yang penuntut umum katakan. Perlu dipertanyakan keabsahan barang bukti yang dipaparkan.”
“Saya belum selesai berbicara. Jangan menyela,” hardik Mahawira, menahan letupan pitam dengan ketenangan.
“Diterima,” putus majelis hakim tak terbantahkan. Kemudian menyudikan. “Penuntut umum, silakan dilanjutkan.”
“Terdakwa melakukan pukulan menggunakan benda tajam pada tubuh korban. Menikamkan belati sampai belasan tusukan dan memanipulasi kematian,” seloroh Mahawira membumihanguskan kelaliman. Pualam kelam dijatuhkan pada subyek yang sarat akan ketakutan. “Demi menyelamatkan jabatan, terdakwa memaksa orang lain untuk mengakui perilaku keji yang dia lakukan.”
Sang antiwirawan masih berjejak pada kedua kaki, sudut bibir merangkak naik satu senti. “Terdakwa menyalahgunakan kuasa sebagai aparat untuk memanipulasi barang bukti serta saksi guna mengalihkan investigasi. Juga, mengajak kawan satu profesi untuk berkoalisi dan melindungi solah bawanya yang nir nurani.”
Gelagat genyi berdikari. Sangkak hati menyelimuti. Pokrol dengan uban menumbuhi, membega afirmasi. “Tidak ada validasi jika terdakwa menyurihkan investigasi dan memanipulasi bukti. Saya selaku pembela adalah saksi, terdakwa taat ikuti proses hukum tanpa sedikit pun mencurangi.”
“Lantas bagaimana dengan ini?” sergah Mahawira menimpali. Menyarangkan pipit sembari mempersaksikan figur seorang yang katanya penegak yuridiksi tengah tergiur oleh substansi. Ia mengeksekusi melalui larik berisi konklusi. “Entah tidak teliti atau memang sengaja mengubur barang bukti, yang jelas Anda berargumentasi di sini karena sudah dibeli dengan harga tinggi.”
Tindak-tanduk was-was tampak cemas. Histeria terburas pada iras, sang advokat membalas, “Perkataan penuntut umum tidak berkaitan dengan jalannya persidangan, Yang Mulia.”
Hembusan napas naas dari orang-orang yang turut hadir dalam persidangan tersiar keras. Pembelaan oleh manungsa kurang waras ditanggapi hawa panas kala petunjuk aktualitas sudah terpajang jelas. Samar, cibiran mulai bertempias walau bersikeras berdalih agar bebas.
“Yang Mulia—”
Ruas suak membekas pada hakim ketua yang bersedekap dengan rahang mengeras. Cua memburas, penegak hukum menentang moralitas. Ganas mengebiri objektivitas demi banda seberangkas. Satiris menilas, sesalkan perilaku culas. beliau menukas tegas. “Penuntut umum, sila bacakan permohonan hukuman bagi terdakwa.”
Gelak Mahawira tersohor puas. Sambil mengelokkan simare yang melekat dengan pas, ia menyuguhkan kausalitas. “Terdakwa melakukan tindakan pembunuhan dengan keji. Memanipulasi kematian dan kronologi, merusak barang serta alat bukti.”
“Terus menyangkal perbuatan dan membunuh korban lain tanpa penyesalan. Hanya untuk menutupi kejahatan yang telah dilakukan, ia bahkan menyalahgunakan kewenangan.” Sang lokawigna melapukkan segala praduga hingga amblas. Pias sarkas terpulas. Ia melibas dengan beringas. “Saya percaya bahwa mengisolasi terdakwa dari masyarakat adalah pilihan tepat yang dapat dilakukan.”
Mewalakkan daluang, bidak Mahawira menyambang hakim ketua yang bersemayam selagi memeka dengan gamblang. Derap berdentang tatkala ia mengikis yojana tuk berjejak di depan jaharu nan adigang. Walakin lesung melintang, desau nyalang berkumandang.
“Maka, berdasarkan Pasal 340 dan 221 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, saya meminta agar terdakwa dijatuhi ganjaran berupa penjara untuk seumur hidupnya.”
“Cabut dakwaanmu, Mahawira.”
Remang pelita temaram tidak mengabutkan pengelihatan. Bahu empu asma berguncang perlahan bak menghidu guyonan. Sejala pipit bermukim pada durja sebab tertawakan sosok yang terperangah oleh kejemuan. Simare belum ditanggalkan, lamun sang pendakwa dihadang ketika langkah berlayar menuju parkiran. Yakini harus kepulangan, Mahawira menggulirkan pandangan. Usai, memvalidkan tiada telinga andil memeka cikal perdebatan, seutas peringatan ia lesatkan.
“Saya pantang menarik ucapan.” Lantunan berlabuh ketenangan tolak gencatan. Bernaung dekap rembulan, Mahawira memantik senyuman. “Pun saya hanya menjalankan mandat yang Anda haturkan selaku Kepala Kejaksaan.”
Sorot muram Nawasena mendefinisikan kekalutan. Runyam berbenturan mengungkai pria yang biasa berteduh dalam kewibawaan, kini tampak kacau tak karuan. “Sesuai ketentuan, kau bisa jatuhkan hukuman 20 tahun tahanan. Wir, bui seumur hidup itu berlebihan.”
“Apakah karena tersangka adalah bagian dari kepolisian hingga hukuman sepadan atas perbuatan pun dianggap berlebihan?” tandas Mahawira menyiat keheningan. Garis muncul di antara alis saat memergoki ponsel sang atasan dikerayah oleh juta panggilan. Kekehan bersanding cemoohan ia lontarkan, “agaknya, seorang komandan kelimpungan tuk mohon pertolongan lantaran salah satu pasukan harus terjerat ihwal yang merusak nama baik institusi bersangkutan.”
Nawasena sigap memutus sambungan. Kernyit berseliweran, menekan berang dikarenakan lawan perbincangan sekehendak hati mengambil keputusan. “Ini hanya ulah oknum, Mahawira.”
“Acap kali aparat terkebat aksi bejat, predikat ‘oknum’ selalu mencuat hanya untuk melindungi citra instansi yang terlibat.” Mahawira meruncingkan lisan. Sepasang obsidian tertancap pada iris bercorak kecoklatan. “Naas, oknum itu satu markas.”
Mengantongi sebelah tangan, Mahawira mencetuskan celaan tanpa memakbulkan gugatan. Angkara beranjangsana meskipun terkubur oleh gelakan. “Kau beri aku titah agar kasus ini diusut sampai tuntas. Mengancam kapasitasku sebagai jaksa utama akan ditebas bila durkasa itu lepas.” Picing kekecewaan dihunuskan. Gema memekak gendang lantas dilaungkan, “Sekarang, kau memaksaku untuk membebaskan bajingan berpangkat, gunakan akal sehatmu, Mas!”
“Kau pikir aku tahu jika tersangka utama adalah polisi?!” Intonasi Nawasena meninggi. Kilat emosi berapi-api hingga gemertak gigi menerbitkan bunyi. Ia meradang selagi melangkahkan kaki guna memupus teritori. “Kau kira aku mau menempatkanmu dalam situasi seperti ini?” Desis memuat histeria pun menyelimuti.
“Setiap ratri mengunjungi, aku dihantui sesal amat menyesaki. Mahawira, perlu kau mafhumi, menyaksikanmu meraung di tepi jasad ayahmu yang pucat pasi karena keberaniannya mengancam aristokrasi, masih terekam dalam ingatanku selama ini,” tutur Nawasena getir, mengungkit kembali kontempelasi bertajuk sungkawa yang abadi. Jarak tereliminasi, pitawat mewanti-wanti dicawiskan sebab ia peduli. “Berhenti mengurusi friksi ini. Peringatanku bukan atas dasar otoritas sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi. Tapi, aku enggan melihatmu menjadi mangsa para tirani keji.”
“Ingat kali pertama kita bersua? Sapta warsa yang lalu, di bulan dan hari yang sama, aku yang baru saja menyemat gelar sarjana, magang sebagai ajun jaksa madya.” Mengulik memori, alegori bak antologi mengamputasi sepi. Kokoh berdiri, Mahawira membilai anarki pada eksistensi yang mengintervensi. “Aku yang mengawanimu kemana-mana, memirsa kau kerap ditekan oleh pembesar punya kuasa. Bertubi-tubi diancam akan dilengserkan sebagai adhyaksa. Kau bilang, jangan gentar bahkan ketika ditodong senjata agar patuhi perintah mereka.”
“Mas, aku kira, kita ada pada sampan yang terdayung sama.” Analogi retoris berdeklamasi. Deru resonansi Mahawira berevolusi genyi. Tidak memadamkan dekiknya yang membingkai, seringai berfusi caci menuai abstraksi. “Ternyata, kau sama seperti mereka.”
Nawasena melonggarkan dasi. Menelan maki saat tekanan darah meninggi. Tuan yang kenakan kemeja berwarna coklat kopi pun menginterupsi, “Wir, situasi sekarang berbeda. Watakmu yang gila negara bisa membuatmu binasa. Pahamilah lawanmu siapa.”
“Dan jangan membatasi otoritasku sebagai jaksa,” tukas Mahawira memahat lengkung presisi. Resistansi ambisi mendominasi. Terbersit arogansi pada lathi yang rancap melucuti. “Aku juga bisa menyingkirkanmu kapan saja, walau aku tahu betul kau siapa.”
“Tidak lelah kau terima teror sana-sini? Lawanmu adalah deretan petinggi, sementara negeri ini sukar dilawan meski kita miliki tupoksi. Terlalu berani, bisa membuatmu lenyap dari muka bumi.” Enigma Nawasena menepis sunyi. Cengkeram erat dasa deriji. Selepas menyibak rikma frustasi, ia menyiratkan tatapan cencala nan mengintimidasi. “Mahawira, aku mengerti, dalihmu tuk pengabdian pada pertiwi yakni hukum harus disupremasi. Namun, bila masih degil kendati telah dinasihati, sila gali kuburmu sendiri.”
“Kau juga tak lelah gunakan kekhawatiran sebagai alasan dan mendesak agar aku angkat tangan?” Aklamasi Mahawira bak anomali nan melukai. Mendengus geli, ia jengah menyelami argumentasi. Sebelum undur diri, artikulasi berkonotasi dengki berasonansi. “Aku tidak menerima sumbangan belas kasihan yang beralibi kepedulian.”
Nawasena mematung seorang diri. Sayup memeka awak yang lesap ditelan baluwarti. Sembunyi dibalik lindung indurasmi, diksi bertaut nafsi cumengkling berdiplomasi. “Mahawira, idealismemu terlalu tinggi! Setidaknya, kau perlu menyadari, ada Andin dan Biyung yang harus kau lindungi!”
Comments
Post a Comment