π—πˆπˆ. 𝐓𝐄𝐑𝐏𝐀 π„ππˆπ†πŒπ€

─────────  ✾  ─────────

• Anandini Naeswari Pratibha  



• Mahawira Wisaka Kawidagda  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎCaturtunggal, Sleman, Yogyakarta  —  22.45 WIB

Derum mobil terhenti di sebuah pekarangan rumah. Pemiliknya keluar dan menutup pintu dengan tak ramah. “Hah … Dititah merampungkan, tapi pas sudah tinggal menjatuhkan hukuman malah disuruh meringankan. Wong kok koyo wedhus tenan.” Mahawira berjalan menuju pintu rumahnya sembari bermonolog dengan amarah.

Sesampainya di dalam rumah, ia melangkah menuju kamar mandi tanpa mempedulikan apapun untuk membersihkan tubuh yang dibalut oleh lelah. Tak puas ia melampiaskan rasa kesal terhadap atasan yang seenaknya sendiri, Mahawira pun kembali bermonolog di dalam kamar mandi, bahkan saat ia sudah tiba di dalam kamar pribadi. Sampai akhirnya mulutnya terhenti ketika melihat sosok perempuan yang berada di ruang makan sembari melahap sepotong roti. “Mbak?! Sejak kapan ada di sini?”

“Sejak kamu misuh di pagar depan. Kowe le misuh banter tenan.” Andin memberi tanggapan sembari astanya menyiapkan makanan untuk disantap oleh si bungsu. “Duduk. Orang yang sedang banyak pikiran harus diberi asupan gizi, biar enggak pusing lagi.”




Selepas menyantap hidangan yang Andin sajikan, keduanya beralih tempat di teras rumah untuk memperhangat percakapan. “Kamu tadi kenapa kok marah-marah dari depan rumah? Biasanya juga apapun keadaannya kamu pulang dengan keadaan sumringah.” Andin memutuskan untuk  membuka obrolan dengan melepaskan rasa penasaran, hatinya jua merasa khawatir akan sikap si ragil yang tiba-tiba mengejutkan.

Yang ditanyai hanya tercenung. Hendak menyampaikan perkara yang dihadapi agar bisa meluapkan rasa gelisah dan emosi yang telah menggunung, tapi ia urungkan lantaran tak mau perempuan di sampingnya ikut bingung. “Mbak pernah enggak dihadapkan dengan pilihan yang sulit? Mau memilih maju jalan tapi banyak persoalan yang akan berbelit-belit, tapi kalau memilih balik kanan nanti rasa penasaran dan rasa menyesal karena enggak mencoba akan melilit.” Mahawira akhirnya hanya bisa menjabarkan tanpa mendetailkan permasalahan. Selepas menjelaskan, ia menundukkan kepala yang begitu berat karena merasa terdapat sejuta beban.

“Mbak punya dua telinga yang bisa kamu pinjam kapan saja,” ujar Andin memulas kurva. Teduh jelaga mengembara, menjumpa runyam yang dikubur sedemikian rupa, ia bertanya, “Wira, berkenan membagi beban yang menyesaki jiwa?”

“Kepalang rekasa aku leraikan kausa. Menautkan kronologi dengan validasi fakta dan data supaya dakwa bisa aku labuhkan pada tersangka.” Mengandarkan warita, Mahawira bertutur seraya menyibak rikma. Menyandarkan punggung pada bangku berbahan akasia, gelak nanar mengudara. Kelam terbenam pada durja, sang adhyaksa cua sebab otoritas ditikam semena-mena. “Usai aku kuak ihwal nan mengabutkan seisi kepala, pelaku utama adalah ia yang memegang kuasa, hingga aku diminta angkat tangan agar selamat reputasinya.” 

Menggulir pandang pada dara yang menajamkan telinga, ia berkata, “Mbak, apa aku berhenti saja ya?”

“Ibarat terjun ke perairan dan sudah sampai pertengahan, mau maju masih banyak piranha, balik kanan banyak buaya. Jadi terobos saja. Karena Mbak yakin kalau sudah didasari niat dan usaha, pasti akan dapat akhir yang bahagia meski membutuhkan waktu yang lama.” 

Pemuda itu mendongak, lalu berupaya untuk mengelak. "Mbak, tapi yang Mbak pilih itu nantinya akan ditempatkan di lingkungan yang enggak nyaman. Bahkan mungkin parahnya akan dicaci maki jika prosesnya enggak sesuai dengan ekspektasi. Kalau sudah demikian, Mbak akan lanjut sampai titik darah penghabisan atau memilih pindah haluan?"

Andin tersenyum simpul saat mendengar pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan. “Walaupun Mbak pilih yang pertama, agaknya sama saja. Pasti juga akan banyak rintangan yang berdatangan. Keduanya pasti ada resiko yang harus diterpa, keduanya pasti juga memiliki akhir yang indah sesuai porsinya. Karena mau aktivitas atau hal apapun yang kamu lakukan, namanya proses pasti enggak ada yang instan.”

Tak lagi mendongak karena lawan bicaranya merasa kalah telak. Andin pun segera menggenggam kedua tangan bermaksud menenangkan. “Wira, coba lihat Mbak sebentar,” yang dipanggil pun menurut dan Andin kembali menyahut, “ingat betul perkataan Mbakmu ini. Kamu enggak akan pulih kalau belum merasakan pedih. Kamu juga enggak akan merasa bahagia kalau belum mengalami luka dan bertemu dengan kecewa.”

“Jadi harus terlebih dahulu prihatin, biar nantinya senang lahir batin?” Mahawira memastikan bahwa kalimatnya barusan kelak bisa menjadi kenyataan. Lalu sang sulung memberikan anggukan, pertanda menunjukkan sebuah persetujuan.

“Sejujurnya, Mbak juga sedang dihadapkan dengan pilihan yang menyesakkan atma dan membuat pening kepala,” Andin mengalihkan pandangannya ke arah gelapnya dirgantara. Rasanya tak sampai hati bila ia mengatakan bahwa Mahawira terlibat dalam pilihan yang diajukan oleh Biyungnya. Satu hembusan napas yang terdengar berat ia keluarkan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “Wira, apapun pilihan yang kita jalani, pasti akan ada hitam maupun putih yang menghampiri. Jadi Mbak harap kamu enggak ragu akan pilihanmu sendiri. Mbak yakin bahwa kamu mampu melewati. Mbak juga yakin bahwa akan ada imbalan yang begitu besar dari Tuhan setelah kamu menempuh berbagai rintangan saat kamu melangkah ke depan nanti.” 


kaserat dening,

— Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ