π—πˆπ•. ππŽππ†πŠπ€π‘

 ─────────  ✾  ─────────

• Mahawira Wisaka Kawidagda  



Layang Samba  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎKejaksaan Tinggi, Yogyakarta  —  16.10 WIB

Tersemat asma Mahawira, termaktub makna; ia tertitah sebagai kesatria. Ejawantah satu di antara sejuta, pratapa terpatri pada sarira tegap bak perwira. Bergatra sang adhyaksa, huraga nan atyana menandu darma pada bentala Nusantara. Alembana mengembara tatkala wasangka mengoyak atma telah diambrastha. Tiada pangaksama, cema tanpa cela yang dimakzulkan mencabik atmaka para durjana. 

Mahawira meracik lentera berupa kurva yang merangkak pada durja kala nayanika memirsa geriap angkasawan yang memblokade aswana di mana jajaran pendakwa berada. Setakar lesung beranjangsana, sebuncah harsa merasuk dalam sukma. Laksana suaka selaksa astama, euforia pun bergelora. Telah Mahawira toreh candramawa perihal arubiru yang mengusut jiwa. Tajam pualam hitam merekam cakrawala, andakara redupkan akatara. Ambuwaha tiba tanpa aba membawa amreta, sembari menanti arutala amrik manggala melanglang buana.

Gaung mengelukan enigma, arohara nyamuk pers memekak arcapada. Memfardukan gugatan, mereka kehendaki Kepala Kejaksaan Tinggi melaungkan isbat tentang kredibilitas dari urita yang mengudara pada media. Sementara yang dikerekau, tak tentu rimbanya. Anikna, pada sangkar yang terkatup rapat tanpa sela, sang pemangku kuasa coba memunahkan desing pening yang mendera. Sesuai praduga, desakan khalayak massa tertuju padanya. 

Kegusaran Samba membara saat iris bersenggama pada arnamawa berisi janma. Sejenak cenggama menyelinap pada raga, gegap gempita para pewarta enggan mereda. “Kau ada rencana pensiun muda?” 

Hela napas berkelana, decak Mahawira mengangkasa. “Samba,” peringatnya membendung celoteh sang ikhwan yang menggaduhkan telinga.

Membega pitawar Mahawira, Samba menukas dengan sengaja. “Wir, kau mau alih profesi jadi pengacara? Aku punya kenalan pemilik firma.” Menyoal agenda pergerakan sang akwayan yang sukar diduga, ia melipat asta di depan dada. Ucapan menggebu ajukan masukan pada kanca. “Oh atau menjadi tenaga pendidik saja? Jadilah widyaiswara. Rekam jejakmu sebagai jaksa bisa dijadikan tuladha bagi para mahasiswa.”

“Sam, pangkatku sebagai jaksa tidak akan dilengserkan secara cuma-cuma,” cakap Mahawira, seketika tergelak usai mendapati kemelut yang singgah pada raut Samba. Sepasang pipit tergurat pada gandra, telapak menepuk bahu kawan bicara guna membumikan ketenangan pada cata yang bergulana. “Pun jika jabatanku hendak direnggut paksa dan dianggap mengganggu stabilitas negara karena menguak kebiadaban para artawan pemerintahan, aku tak akan diam saja.”

“Dan mereka juga enggan membisu ketika kau tohok reputasinya dan mengungkap aksi cendala yang telah dibenam dengan cara mengecam awak media. Fakta yang kau singkap, Wir, memporak-poranda nama baik yang diagungkan semasa mereka merayu rakyat untuk mengantongi hak suara,” sanggah Samba, alis menukik sejala. Sudut pandang berseberangan, mawinga-winga ia menekan agar tak melengkingkan pita wicara. Senyum masam menjajah wajah, ia hujani Mahawira dengan cerca. “Dakwa yang kau labuhkan terbukti nyata serta mendatangkan papakerma. Kau luluhlantakkan kedudukan manungsa punya tiyasa dan menyiarkan kekejian mereka pada penjuru janapada. Kau kira mereka akan pasrah menerima?”

Berkacak pinggang, Samba menjatuhkan rahang saat Mahawira mengulum tawa. Ia jengah, seakan dalilnya sekadar bualan belaka. “Kau pikir penjara bisa menobatkan mereka?” 

“Jeruji tua tidak menyediakan jaminan jera. Maka, aku penjarakan mereka selamanya,” timpal Mahawira, kumalungkung menyuarakan rekognisi yang dipunya.

Angkara yang mengendap sedari lama Samba dilesatkan tanpa aba. Mengayunkan dwicagak, ia mengikis jarak lantas berkata, “Perlu kau ingat hingga menua. Suatu waktu mereka berang dengan keberanianmu yang jemawa, habislah kau ditangan mereka.” Deriji menuding pembatas kaca, gelisah melintang di muka.  “Lihat, betapa riuhnya wartawan yang menuntut justifikasi mengenai oknum yang terjerat sengketa. Seumpama kau usut satu demi satu kelakuan mereka, sanggup kau hadapi kericuhan seperti ini setiap harinya?”

“Gunakan kewarasanmu, Wir, yang terancam bukan hanya kau saja tapi kita semua.” Melalui sudut mata, Samba menggulir pandang pada Mahawira yang memeka gelumat bahana di luar sana. Mengusak surai sambil mendesah kecewa, frustasi menyelubungi sekujur pratyangga.  “Mahawira, mengertilah, sedari dulu perkara yang kau leraikan mengancam nyawa. Apa tak bisa menangani ihwal sederhana tanpa melibatkan penguasa?” 

“Kau dibayar berapa?” tandas Mahawira, runcing netra memahat wirodra. Gelita rupa menikam seorang wirya yang kenakan kemeja bernuansa merah bata. “Potong saja lidahmu kalau enggan buka suara.”

Terperanjat hingga nyaris tercekat, Samba ternganga. Memiringkan kepala, ia terperangah kala tuduhan dihalaukan padanya. “Maksudmu apa?”

“Terlibat dalam memanipulasi kronologi dan merusak barang serta alat bukti selama penyidikan terselenggara. Lancang pula kau merecoki kasus yang aku tangani, Samba.” Menepis yojana, Mahawira mengurai duskarta sang handai yang dipercaya. Rancap kata tertumpah oleh anana nan cempala. “Kau sangka aku tidak bisa menyingkap pracara yang kau kubur sekuat tenaga?”

Merogoh kocek celana, Mahawira mencelampakkan lembaran potret Samba tengah bercengkerama bersama negarawan seraya menyesap cerutu dengan uap membumbung di udara. “Selain arta, andrawina apa yang kau terima usai berkoalisi dengan mereka?”

Samba tercenung pada pijakannya. Gemertak gigi merebak senada. Sorot nanar begitu kentara merepresentasikan sungkawa. “Mahawira, kau ini bicara apa?” Terpingkal sumbang sebelum tatapan murka menyala. Lara berbiak sebab picingan dengki mendarat untuknya. “Sekarang menuduhku juga? Wir, kita bertolan sejak bangku SMA, bagaimana bisa kau menaruh curiga pada teman yang mengiringi langkahmu kemana saja?”

“Berapa digit pundi harta yang dikirimkan ke rekeningmu, Samba?” Walakin secorak demarkasi senantiasa bergalur seirama, praupan Mahawira tak terbaca. Wirta teramat kawastara, ia menghujamkan obsidian kelam pada Samba. “Kalau enggan katakan sesungguhnya lebih baik tutup mulutmu selamanya dan jangan mencela otoritasku sebagai jaksa.”

Terakuk tengkuk Samba. Sesak menyiksa, hunus pocapan Mahawira bak katana yang menyulut lara. Hindari kontak guna menghalau udaka. Terkepal dasa jemari, tak sanggup ia bermusita. Wibrama berbancuh cua kemudian melanda.

“Mahawira.”

Panggilan sosok lain menyela. Sesaat, menumpas tiwikrama antara Mahawira dan Samba. Memutar kangga, ujung bibir sang empu nama tertarik senada. Solah bawa jatmika menyambut Nawasena. Tiada formalitas sebagai pembuka, Nawasena memarginalkan dasi seraya melayangkan mandat pada Mahawira. “Ikut saya, kita temui larikan jurnalis sebelum mereka kian membabi buta.” Derap terserak tatkala pria dewasa tersebut beranjak dari sana.

“Apa ambisimu selama ini?” celetuk Samba menghentikan jangkah Mahawira. Dagu terangkat digsura. Lagak langguk kali pertama diperlihatkan pada teman lama. Ia meleja, “inginkan NKRI bersih dari pretensi? Padamkan saja mimpi patriotikmu hari ini. Lama-lama aku muak melihat tingkahmu yang sok suci.”

“Ironi, mereka yang melabeli diri sebagai abdi pertiwi justru bejatnya melebihi bandit kelas teri. Rakyat butuhkan transparansi, bukan arogansi yang dibenarkan oleh yurisdiksi.” Mahawira mempertegas wiwaksa. Remeh bahaknya menggulingkan defensi Samba. Runcing sepenggal aksara ditanggalkan tiada iba. “Hama negeri sepertimu ini sepantasnya dieksekusi.”

kaserat dening,
— Werkudara

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ