π—π•πˆπˆπˆ. ππ”ππ†πŠπ€π’π€π



 ─────────  ✾  ─────────

• Mahawira Wisaka Kawidagda  



• Anandini Naeswari Pratibha  



• Kasetra Satyawangsena  

─────────  ✾  ─────────

γƒΎKejaksaan TinggiYogyakarta  —  03.03 WIB

Arcapada dibuai kelam. Senyap kian menikam, membenam gemuruh nan mencekam. Tidak terhidang lengking bising dari lalu-lalang kendaraan yang menggeram. Pun gelegar hingar-bingar yang semula berdentam memekak penjuru peradaban, telah redam ditelan malam. Deru jarum jam laksana intuisi ‘tuk lekas terpejam. Namun, gerunyam pikiran bertakat mencengkeram.

Tatkala sunyi berguam guna menggugurkan gegap nan bersemayam, tiga atma berdekam pada bangku bercorak legam. Tiada aklamasi yang tersulam sebab ragam kekalutan teranyam dalam bungkam. Membengkalaikan kepulan uap dari cawan kopi hitam, ruam muram lantas merunjam. Mengacaukan hening yang bertilam, seorang dara lebih dahulu bergumam.

Biyung kata, kamu enggan kembali seperti sedia kala. Kenapa?” Mengandarkan kalimat tanya selagi membega atensi pada yang lebih muda, desir napas Andin terasa berat mengudara. Mengangankan fatwa segera tertoreh dari anana adiknya, dengan sengaja siku menyoal lengan milik pria yang duduk di sebelahnya, sang pewarita lantas berkata, “Tra, coba kamu tanyakan apa alasannya.” 

Menggulingkan pengelihatan pada teruna yang enggan buka suara, garis tipis merangkak pada roman muka Setra. Sang juru lensa mengetuk meja, memfardukan atensi dari subyek yang di depan mata. “Mahawira, Mbakmu sedang bertanya.” Ultimatum untuk kunjung mewakafkan jawaban atas pertanyaan sang nona. Kendati keramahan tersemat begitu kentara, ia melipat asta sambil mempertegas gaya bicara. “Biyung sudah menghaturkan pangapura. Beliau menyesal atas tindak-tanduknya. Bila kamu sukar berdamai dengan realita, kapan laramu mereda?”

“Perihal kembali seperti semula, justru aku meminta Biyung untuk tidak mengubah apa yang sudah ada dengan menjadi asing seperti biasa,” tutur Mahawira seraya menyarangkan pipit pada muka. Pualam lekat menatap Andin dan Setra yang tampak kontra. Memirsa syak melintang pada gandra lawan bicara, wirya yang mengenakan kemeja bercorak biru tua pun menyandarkan punggung pada asana, lalu mencerca. “Mbak, Mas, jangan banyak menuntut apalagi meminta. Aku tidak ingin menandaskan sisa usia bersama Biyung, itu saja.”

“Kenapa?!” Andin memekik seketika. Naik satu oktaf renyut wicara. Mengacaukan paras jelita, dara pemilik desau selembut sutra itu bermuram durja. “Aku kira dengan bekerja dan menghabiskan waktu bersama, relasi kita dapat utuh tanpa noda.”

“Wira, pertimbangkan lagi sebelum membuat dedikasi yang tidak berguna. Hanya kalian berdua yang Biyung punya, sungguh kamu tidak mau menemaninya menua?” cakap Setra menyemat keseriusan dalam sorot nayanika. Meraih pekat kopi yang mengucurkan aroma nan menggugah selera, ahli kamera tersebut membiarkan rasa pahit bercampur manis membasahi kerongkongannya. “Menanam dendam pada wanita yang menghadirkanmu ke dunia merupakan sebuah dosa.”

“Maka orangtua yang menoreh luka pada darah dagingnya juga bisa membusuk di neraka,” tandas Mahawira membungkam telak proposisi Setra. Melayangkan tatapan mencela, lelaki yang mempertuan sepasang lesung itu tergelak begitu saja. 

Denting tersua kala sendok dalam genggaman Andin bersenggama dengan gelas bergambar bunga. Intuisi pun dilesatkan melalui bibir berwarna merah muda. “Biyung enggak seburuk yang kamu kira.”

“Kata siapa?” timpal Mahawira, menopang dagu serta berkelakar tawa. Gelegar bahak penaka menghidu guyonan semata, sang adhyaksa khusyuk melabuhkan kurva. Tanpa melibatkan jeda, lambat-laun lesap, derai lenyap tak bersisa. “Mbak, kamu sungguh mengenalnya?”

Kernyit melintas pada dahi Andin menakrifkan ketersesatan yang sukar dijamah indra. Alis tertaut sempurna, jelaga memicing curiga. “Maksudmu apa?”

“Kamu pikir kenapa aku meraung di samping pusara Romo ketika beliau tiada?” Bagai huru-hara di antara sepi nan mendera, Mahawira menjadi satu-satunya gatra pangkal yang berbicara. Memenjarakan rona pada praupan seteduh rimba, resonansi sedalam samudra milik jejaka itu membabi buta obyek yang terperangkap oleh netra menggunakan enigma. “Apa kamu kira aku sekadar berduka? Kamu sangka aku menangis atas ucapan belasungkawa dan ratapan iba? Atau menduga duniaku porak-poranda hanya karena Romo tutup usia?”

Ranum bibir dari Andin dan Setra terkatup secara tiba-tiba. Keduanya hanya membiarkan rungu bekerja untuk mendengar apa yang dituturkan oleh perjaka muda di hadapan mereka. Hingga tiba masa decitan terlontar begitu saja.

“Tidak, Mbak.” 

“Aku menjerit karena dipaksa menerima kepergian Romo yang sia-sia. Diminta mengubur jasadnya menjadi belulang tak bernama serta membinasakan fakta.” Lirihan Mahawira mengeliminasi sunya. Raut gelita membuntang ke permukaan tatkala kecewa mencabik sukma. Bibit genyi usai dipupuk sekian lama pun meledak jua. “Jika aku berkata bahwa Biyung lah tersangka utama, apa kamu akan percaya?”

Mengepalkan deriji hingga memucat buku jari, Andin mawinga-winga saat bertukar pandang dengan adiknya. Rahang mengeras mendapati gemetar pita suara, ia mendesis atas praduga yang sukar dicerna. “Kamu punya bukti apa?”

Menarik sebuah arsip dari balik nakas, pias pada iras Mahawira terpulas. Ia marginalkan daluang ke arah dayita yang senyumnya berangsur amblas. Sang beskal pun berujar culas, “Telitilah sendiri berita acara kematian Romo yang dimanipulasi. Hasil autopsi nyatakan sidik jari Biyung tertinggal pada cangkir berisi arsenik yang ditenggak Romo hingga mati.”

Merenggut lembaran kertas, keterkejutan Setra bertiras. Turut menafahus afirmasi yang tergurat dengan diksi beringas, senyumnya meranggas. “Aku tidak terlahir dari rahim Biyung tapi aku mengenalnya lebih baik darimu. Ini palsu—” Penuturan terpenggal akibat kredibilitas teringkas tanpa hipokrisi yang menggilas. Ia mengusap wajah lalu melibas, “bahkan jika asli kenapa baru sekarang memberitahu?

“Mas, jangan mencari-cari kesalahanku. Kalau aku mau, sudah mendekam dia di balik jeruji sedari dulu,” hardik Mahawira mengurai diksi sarkas. Kedua dekik berbekas, decihan pun lepas. Desakan menandunya pada ambang batas. Berang seolah bermarkas, klausa beringas lekas menumpas. “Akan tetapi, nuraniku masih menghormatinya sebagai sosok ibu. Percaya atau tidak itu hakmu, aku hanya memfatwakan bahwa jangan terlalu tinggi ekspektasi terhadap wanita itu.”

“Apa yang dibaca oleh netraku tidak benar adanya.” Binar Andin terkuras, digantikan oleh cemas bertempias. Sekujur tubuh terasa lemas lantaran bait yang tertawan iris menghujam rasionalitas. Tiada kias, pernyataan terdeklarasi jelas. Perih mendaras, bilurnya luruh dengan deras. “Biyung memang terkenal keras terhadap apa saja. Tapi tidak masuk akal rasanya bila beliau menghilangkan nyawa seorang laki-laki yang dicintainya.”

“Itu asumsimu saja.”

Lisan lugas menukas. Nanar terpatri selaras bersama sesaknya dahanam napas.  Gulana meruntas membahu obsidian yang memanas. Rinai gugur usai menapak tilas memori lawas. Jua, terperanjat lah mereka setelah memirsa awak ringkih Ratna digelandang oleh petugas. Pendar terampas oleh aktualitas, carita ini telah kandas.

“Dari kejadian ini, Biyung harap di masa depan kamu bisa belajar bahwa tidak semua manusia benar-benar memiliki hati. Ada saatnya mereka mengeluarkan duri yang disembunyikan dalam diri dikala dihadapkan oleh sulitnya sebuah situasi.”

kaserat dening,
— Werkudara & Lily

Comments

Popular posts from this blog

π—π•πˆπˆ. π–π€π‘π€πŒπ„π‘π“π€

π„ππˆπ‹πŽπ†: 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐍𝐀

π—π•πˆ. π„πŠπ’ππ‹π€ππ€π’πˆ